24 Jam Terindah
“Jangan pernah menyia-nyiakan orang
yang tulus mencintaimu,
karena setiap kesempatan tak selalu datang 2 kali.
Namun ketika kamu yakin & percaya, segalanya dapat menjadi mungkin.
Termasuk kesempatan untuk membuatnya kembali bersama takdir yang indah untukmu”
karena setiap kesempatan tak selalu datang 2 kali.
Namun ketika kamu yakin & percaya, segalanya dapat menjadi mungkin.
Termasuk kesempatan untuk membuatnya kembali bersama takdir yang indah untukmu”
“Mimpi dan cinta adalah 2 hal penting
yang patut diperjuangkan”
Kareliza, begitulah panggilan untuk pasangan yang
dinobatkan sebagai King & Queen promnight malam ini, mereka adalah Karel &
Liza. Karel yang tampan, popular, pintar, dan memiliki senyum yang manis serta
Liza yang cantik, pintar, dan ramah membuat mereka dijuluki sebagai pasangan
yang paling serasi menurut anak-anak SMA Harapan Bangsa. Selain itu mereka juga
pasangan yang paling awet, karena mereka sudah berpacaran selama 3 tahun Kemesraan
mereka berdua yang natural & tidak terkesan dibuat-buat membuat semua
pasangan di SMA tersebut iri melihatnya.
Namun
sayangnya kebahagiaan tak selamanya menyelimuti mereka berdua. Kesedihan mulai
terasa pada saat hari kelulusan. Setelah bersorak sorai gembira karena
kelulusan mereka, Karel memberitahu bahwa ia mendapat beasiswa di Australia,
dan 3 hari lagi ia akan berangkat kesana. Karel tahu ini sangat mendadak, tapi
ia harus jujur pada Liza, walaupun dengan kejujuran ini akan menyakitinya,
karena bagi Karel lebih baik menyakitinya dengan kejujuran daripada harus
membahagiakannya dengan kebohongan. Liza sangat senang mendengarnya, karena itu
merupakan impian Karel sejak dulu. Tapi disisi lain hatinya terluka, karena
Karel akan pergi meninggalkannya. Karel menyadari bahwa Liza tak sepenuhnya
bahagia mengetahui hal ini. Senyuman & sorot mata Liza yang beda dari
biasanya membuat Karel merasakan apa yang Liza rasakan.
Keesokan harinya mereka berdua bertemu. Karel mengutarakan
keinginannya pada Liza.
"Aku ingin
menghabiskan waktu sehari penuh bersamamu sebelum kita benar-benar berpisah. Aku
juga ingin tak ada setetes pun air mata kesedihan yang jatuh ketika mereka
melewati hari itu. Aku ingin sehari saja mereka melupakan semua beban yang ada &
semua hal yang membuat kita merasa tersakiti."
Liza pun menyetujui pemintaan untuk
menghabiskan waktu bersama Karel. Tapi untuk permintaan jangan ada air mata
dalam perpisahan mereka ia merasa tak akan sanggup untuk memenuhi permintaan
itu. Ia mungkin saja sanggup melewati 24 jam itu tanpa air mata karena ada
Karel disisinya yang akan menguatkan hatinya, tapi bagaimana setelahnya? Apakah
ia sanggup tak mengeluarkan air matanya jika Karel pergi? Semua pertanyaan itu
berkecamuk dalam benaknya.
Akhirnya Liza pun setuju. Mereka
berdua berkomitmen, dan tak akan
menganggap 24 jam itu adalah hari kebersamaan mereka yang terakhir.
Keesokkan harinya, pada pagi hari
Karel menjemput Liza ke rumahnya. Karel membawanya pergi ke suatu pantai.
Pantai yang penuh kenangan indah, yang tidak lain adalah tempat pertama mereka
memulai hubungannya. Hati Liza terasa sangat perih ketika datang ke tempat itu.
"Setelah
kita memulai semuanya di pantai ini, apakah kita juga harus mengakhirinya
disini? Aku merasa tak sanggup." gumamnya dalam hati.
Karel sebenarnya tidak bermaksud untuk
membuat Liza sedih dan mengakhiri hubungannya disini. Ia hanya ingin mereka
berdua bersenang-senang di pantai itu seperti saat mereka memulai hubungan ini.
Ia ingin membangkitkan lagi kenangan & moment-moment indah yang pernah mereka
lewati disini.
Seiring dengan berjalannya waktu,
mereka berdua menikmati kebersamaannya di pantai itu. Mreka bercanda tawa
bersama, tawa mereka benar-benar lepas tanpa beban. Mereka melakukan semua hal
yang menyenangkan, seperti mengelilingi pulau-pulau disekitar pantai dengan
kapal yang sudah Karel siapkan, melihat indahnya sunset, romantic dinner, dan
melihat kembang api yang indah. Pada malam harinya mereka menghambiskan waktu
dengan menonton DVD-DVD favorit mereka sampai pagi di rumah Liza.
Waktu terasa begitu cepat berlalu saat
mereka bersama. Mereka berdua hanya ingin kebersamaan ini tak pernah usai,
namun sepertinya waktu berkata lain. Rasanya mereka ingin sekali
menghentikan waktu yang terus berputar
saat itu agar kebersamaan mereka tak harus berakhir dimakan oleh waktu.
Sayangnya, kebersamaan mereka harus segera berakhir. Liza tak kuasa menahan air
matanya, matanya sudah berkaca-kaca ketika mereka akan benar-benar berpisah,
tapi Karel menguatkannya. Karel mengingatkannya bahwa ia jangan menangis,
hadapi perpisahan ini dengan senyuman.
Sebelum pulang Karel memberinya
sebotol origami bintang. Karel mengatakan jika Liza merindukannya, lihatlah
bintang-bintang ini. Bintang-bintang ini akan menghapus kerinduannya & akan
selalu menemaninya.
Keesokkan harinya saat di bandara,
Liza malah memutuskan hubungannya dengan Karel. Dengan sekuat hati ia
melakukannya.
"Aku tak
mau kalau hubungan kita hanya akan menghalangi mimpi & membebani pikiranmu
Karel. Keputusan ini memang sangat berat bagiku, aku hanya ingin melihatmu
bahagia, meski tanpaku."
Sebelum Karel pergi, ia mengatakan sesuatu
pada Liza.
"Kau tak
perlu teraku pada masa lalu, jika suatu saat nanti kau melupakanku &
menemukan penggantiku, itu tak mengapa. Cukup aku saja yang akan selalu
mengingatmu."
Seketika itu juga Liza langsung
menangis. Ia menyesal karena telah menyakiti Karel, juga hatinya sendiri dengan
memutuskan hubungan mereka.
"Harusnya aku
bisa menjaga hubungan ini, harusnya aku tak menyia-nyiakanmu yang sangat tulus
mencintaiku." Sesal Liza dalam hatinya.
Karel memeluk Liza, ia mempersilahkan
Liza menangis sepuasnya dibahunya, ia ingin Liza melepaskan semua beban yang
ada dihatinya walaupun itu hanya sesaat. Tapi ia ingin setelah tangisannya kali
ini Liza tak boleh menangisi perpisahan mereka lagi. Seolah bisa membaca apa
yang Liza pikirkan, ia juga mengatakan bahwa Liza tak menyesal karena telah
mengakhiri semuanya. Ia tak akan pernah menyesal telah mengenal Liza, telah
bersamanya selama ini, karena keinginan terbesarnya adalah membahagiakan Liza,
melihat Liza selalu tersenyum. Sebelum ia pergi, ia ingin melihat Liza
tersenyum untuknya. Liza pun tersenyum walaupun hatinya masih menangisi
perpisahan ini. Dengan berat hati mereka pun berpisah.
**
Setelah Karel pergi, hari-hari Liza
terasa sangat sepi, ia hanya melamun, murung, dan tak bersemangat. Semakin Liza
mencoba untuk melupakan Karel, semakin sering bayangan Karel muncul dibenaknya.
Karena khawatir dengan keadaan Liza selepas
Karel pergi, Davi, sahabat terdekat Kareliza datang ke rumahnya. Saat Davi datang,
kondisi Liza sangat mengkhawatirkan, ia tak mau makan, ia juga tak bersemangat
lagi untuk melakukan apapun. Davi tidak tega melihatnya. Ia sudah menghiburnya,
tapi Liza tetap saja tak seceria dulu saat ada Karel. Davi mengerti, yang Liza
butuhkan sekarang adalah waktu untuk sendiri.
Hal yang sama dialami oleh Karel, ia
sangat merasa kehilangan sosok Liza yang terbiasa hadir dalam hidupnya. Namun
ia masih bisa melanjutkan hidupnya, meskipun sebagian dari jiwanya telah pergi.
Ia pun membuka blog Liza, dengan harapan ia bisa menghapus kerinduannya pada
sosok gadis yang selalu membuat hari-harinya berwarna itu. Tapi ternyata
semuanya diluar dugaan. Rasa sakit itu kembali menyayat hatinya ketika ia
membaca postingan terbaru di blog Liza.
Ketika kau membuatku jatuh cinta
Kau mengajariku keindahan,
keceriaan,
Cara
menikmati matahari tenggelam,
Cara
meresapi kemerduan dari kesenyapan.
Namun saat kau pergi meninggalkanku
Kau
belum sempat mengajariku
Bagaimana
cara untuk melupakanmu.
Bagaimana
bisa aku melupakanmu
Jika
setiap malam kau selalu hadir dalam mimpiku
Jika
setiap saat yang terbersit dibenakku hanyalah bayangmu
Tak
pernah sedetikpun kulewati
Tanpa hadirnya sosokmu didalam pikiranku. [K]
Lagi-lagi Karel merasa sangat menyesal telah meninggalkan
Liza. Lalu ia pun memposting kata-kata
di blog pribadinya agar Liza tahu bahwa Karel juga merasakan apa yang Liza
rasakan sekarang.
Mungkin
aku terlalu pengecut karena tak berani untuk sekedar menghubungimu, menanyakan
bagaimana keadaanmu disana. Aku hanya tak ingin mengusik hari-harimu dan
membuat diri ini semkain menyesal karena telah menyia-nyiakanmu yang pernah
hadir dihidupku. Aku tahu & aku sadar ini memang keputusan & hal
terbodoh yang pernah kulakukan. Namun yang harus kau tahu, aku disini pun
merasakan apa yang kau rasakan disana.
Setiap
detik, setiap hembusan nafasku hati ini selalu memanggil namamu, bibir ini
ingin selalu mengatakan bahwa ‘aku merindukanmu‘ padamu. Aku merindukan segala
hal tentang dirimu, terutama senyumanmy yang selalu menjadi penyemangat dalam
hidupku.
Dihati
ini masih & akan tetap terukir namamu. Walaupun kita terpisah oleh jarak
& waktu, namun perasaan ini tak pernah berkurang sedikit pun. Yang ada
hanya lah rasa cinta yang selalu bertambah setiap waktunya.
Percayalah,
jika kita memang ditakdirkan untuk bersama, takdir juga yang akan menuntun
untuk membertemukan kita kembali.
Life must go on Chérie! Keep
spirit for your life, for your dream, and for all people who loves you!
Setelah
itu Karel menghubungi Davi, ia menanyakan bagaimana kabar gadis yang ia cintai
itu. Davi memberitahu bahwa Liza masih murung & sering melamun, ia juga
sekarang tidak sesemangat & seceria dulu saat Karel ada disisinya.
Liza
membaca postingan di blog Karel. Entah mengapa, kata-kata dari Karel membuatnya
termotivasi, membuatnya percaya ia harus tetap menjalani hidupnya seperti sedia
kala, serta yakin bahwa Karel akan kembali padanya suatu saat nanti.
Setelah
itu hidup Liza kembali seperti dulu. Ia juga kuliah di salah satu Univ. di Jakarta.
Begitu juga dengan Karel ia tetap menjalani kehidupannya di Ausie. Meskipun ia
telah lama meninggalkan Liza, namun ia tak pernah benar-benar meninggalkannya,
ia masih sering menghubungi sahabatnya Davi untuk sekedar tahu bagaimana Liza
hari ini. Tapi ia tetap tak pernah menghubungi Liza sekalipun semenjak
perpisahan mereka.
Saat
di kampus, Liza bertemu dengan seorang editor muda dari salah satu penerbit
terkemuka, sebut saja ia Masen (22 th). Masen tak sengaja melihat catatan Liza,
ia melihat berbagai puisi & cerpen yang menurutnya layak untuk diterbitkan.
Semenjak itu Liza jadi lebih sering menulis. Tak lama setelah itu ia juga
menerbitkan buku pertamanya. Ia berkarier sebagai penulis novel fiksi.
5 tahun kemudian…
Setelah
novel-novel sebelumnya menjadi best seller, sekarang ia akan meluncurkan novel
ke 7 nya yang berjudul “Still for You”. Acara launching novel ke 7 Liza pun
dimulai. Diacara itu Liza mengadakan kuis dengan hadiah-hadiah yang menarik,
dan hadiah yang utama adalah dinner & liburan bareng dia ke Bali selama
sehari.
Tanpa
diduga, ternyata yang memenangkan kuis itu adalah Karel. Liza sangat terkejut,
tapi ia sangat bahagia, karena sebagian jiwanya yang hilang kini telah kembali.
Takdir telah mempertemukan mereka kembali.
Sama
seperti Liza, kini karier Karel sudah sukses. Ia sudah menjadi pengusaha muda
yang sukses di Indonesia. Ia juga telah menyelesaikan kuliahnya di Ausie.
Rasa
rindu mereka kini telah terobati, terlebih lagi mereka akan liburan berdua di
Bali. Suasana pun semakin hangat ketika mereka candle light dinner di pantai
Kuta. Kedekatan mereka kembali seperti dulu.
Karena
liburan ini bertepatan dengan hari ulang tahun Liza besok. Saat tengah malam
tepat pukul 00.01 WITA Karel memberikan kejutan ulang tahun pada Liza. Ia juga
merupakan orang pertama yang mengucapkan ‘happy birthday‘ pada Liza. Selain
itu, ia memberikan kado sebuah cincin yang sangat indah sebagai keseriusannya
dalam menjalani hubungan dengan Liza.
"Aku menyesal karena dulu sempat menyia-nyiakanmu.
Aku tersiksa
selama hidup tanpamu. Sampai detik ini hatiku masih tetap untukmu. Mau kah kau
menerima cincin ini sebagai tanda keseriusan hubungan kita?" Guma Karel.
"Ya. Aku
mau. Maafkan aku karena dulu aku telah memutuskan hubungan kita. Aku sangat
menyesal."
"Tak perlu
menyesali semua yang sudah terjadi. Kita mulai semuanya dari awal lagi." Gumam Karel
meyakinkan Liza.
Karel pun memasangkan cincin itu di
jari Liza. Liza sangat bahagia, ia menerima cincin dari Karel. Hubungan mereka
kini menjadi lebih
indah. Penantian panjangnya kini telah berujung manis.
Setelah selama 24 jam mereka menghabiskan liburan di Bali, mereka pun kembali
ke Jakarta.
"Terimakasih atas 24 jam terindah ini Karel.
Aku mencintaimu, dan takkan kusia-siakan dirimu lagi." Batin Liza.


Comments
Post a Comment