Perkara Harapan 2: Lelah dan Bodoh
Cerita sebelumnya: Perkara Harapan
Malam ini kamu datang lagi bersama seikat bunga mawar yang awalnya kau sembunyikan di balik badanmu.
"Aku merindukanmu. Bisakah kita seperi dulu lagi? Mencoba saling menyayangi. Aku merindukan kita yang dulu." Katamu sembari memberikan buket bunga itu.
Seketika itu detak jantungku melompat-lompat kegirangan, hatiku menghangat. Air mataku memaksakan dirinya untuk keluar, hingga aku tak dapat menahannya.
Aku meng-iya-kan kembalinya kamu. Tak dapat kupungkiri rindu inipun masih milikmu.
Malam ini aku merasa jatuh cinta lagi padamu untuk yang kesekian kali. Kemanapun kamu pergi, pulangmu tetap padaku, seperti malam ini.
***
Aku tak bisa menyimpan kebahagiaan semalam sendirian, dan tak mungkin rasanya jika aku harus berbagi pada dunia maya. Jadi kuputuskan untuk bertemu Nana, menceritakan semuanya.
Seperti biasa, Nana meragukan keputusanku. Memang, aku tak handal dalam mengambil keputusan, terutama untuk masalah Dennis. Namun, aku berusaha percaya, kepulangan Dennis kali ini bukan untuk perginya esok, seperti yang kemarin.
"Aku bahagia mendengarnya. Semoga kali ini luluhmu padanya takkan berakibat pada hatimu yang baru saja kau tata itu." Gumam Nana setelah aku berusaha meyakinkannya bahwa keputusanku akan kembalinya kamu sudah tepat.
***
Aku bukan mudah luluh, tapi aku lelah. Lelah, mencari sosok yang senyaman kamu,
Dennis. Lelah, berusaha mencintai seseorang yang lain. Lelah, berpura-pura
kuat, saat rindu menghajarku sebegitu hebatnya. Lelah, berusaha menetralkan
perasaan tapi hasilnya bahkan semakin berkecamuk di hati ini. Lelah, menjadi
sosok yang hanya bisa mencintaimu dalam diam ketika kita tak bersama.
Dan mereka
tak mengerti semua lelahku itu.
Yang mereka
tau, aku hanyalah perempuan lemah yang terlalu takluk padamu.
Tapi aku
tak peduli.
Aku berhak
mencintaimu selama kamupun sama. Perasaanku berhak pulang ke hatimu.
Bodoh. Bentakku pada diri sendiri. Sudah tau dia selalu melakukan kesalahan yang sama, dan kau masih mau hanyut dalam buaiannya? Batinku bergejolak, dan logika mulai ikut andil dalam hal ini.
Yah, anggap saja
aku tak mengetahui apapun yang kamu lakukan di belakangku.
Pahit
memang, aku sadar, tapi aku lebih ingin menikmati manis yang kudapat darimu.


Comments
Post a Comment