Persimpangan Hati


Ikuti saja kemanapun arah hatimu untuk menemukan persimpangan terakhirnya, karena kata hati takkan pernah salah.

Wujudnya kini kian terasa nyata. Sosok yang selama ini hanya hadir sebagai imaji dalam benaknya. Mario, sosok dari masa lalu Ollie yang kini hadir dihadapannya, ia berdiri tak jauh dari raganya. Namun ia hanya bisa menikmatinya lewat diam, hanya memperhatikannya dari jauh.
Saat Mario mulai menyadari kehadiran Ollie yang tak jauh darinya, ia mendekati Ollie. Tepat didepan pandangannya kali ini lelaki itu berdiri. Seketika itu juga ia tersenyum pada Ollie. Senyuman termanis yang menyambut pertemuan 2 orang dari masa lalu itu.
"Akhirnya takdir mempertemukan kita lagi." Gumam Ollie dalam hati.
"Senyum itu, sorot mata itu. Ah, segala tentangmu bahkan lebih dari sekedar kurindukan. Akhirnya kini kau berikan aku sunggingan manis dari bibirmu lagi." batin Ollie.
Tanpa menunggu lama Ollie pun langsung membalas senyuman itu.
Namun saat harapan mulai terbit, saat semangat mulai membara, dan saat keberanian untuk memulai kembali segalanya telah membakar jiwa. Tiba-tiba, datanglah sesosok wanita cantik menghampirinya, menggandeng tangannya, bercanda tawa dengannya, dan pergi bersamanya tepat didepan mata kepala Ollie. Mereka pergi meninggalkan sosok Ollie yg masih termenung dengan sejuta harapannya yang kian memudar.
Hati dan logikanya merasa belum sanggup untuk menerima kejadian menyakitkan yang terjadi begitu cepat tadi. Hatinya remuk berkeping-keping bagai dijatuhi bom atom yg sudah meledak sebelum Ollie menyadari keberadaan bom tersebut.
"Terlalu sakit Mar..." batin Ollie lirih. Sejenak ia hanya terdiam, menyatu dengan keheningan. Hatinya masih berusaha mencerna kejadian pahit tadi.
"Kau datang dengan berjuta harapan, kau juga yg menghancurkannya begitu saja." tanpa terasa air mata Ollie perlahan-lahan mulai jatuh berlinang membasahi pipinya.
Ollie menarik nafas panjang, dadanya kian terasa sesak dipenuhi luka. Namun ia mulai mencoba menerima kenyataan yang tak sejalan dengan harapannya.
"Sudahlah, mungkin memang aku saja yang terlalu berlebihan menaruh harap padanya, bukan ia yang terlalu memberiku harapan. Bukan ia yang salah." gumam Ollie sembari menghapus air matanya. Bukannya kering, air matanya malah turun semakin deras, semakin tak kuasa untuk Ollie tahan, semakin tak mampu untuk ia hapus.
Tiba-tiba ia melihat seseorang mengulurkan sehelai saputangan untuknya. Ollie yg sedari tadi sedang menundukkan kepalanya pun mengangkat kepalanya, pandangannya beralih pada lelaki bertubuh tinggi itu. Wajahnya asing, di mindset Ollie tak pernah sekalipun melihatnya.
Lelaki itu tersenyum lalu menghapus air mata di pipi Ollie dengan saputangannya sembari berkata  "Jangan pernah buang air matamu untuk seseorang yg pergi meninggalkanmu. Dengan ia pergi, berarti ia bukan seseorang yang pantas mendampingimu dimasa depan."
Ollie masih termenung. Senyuman dan tutur lakunya begitu lembut, membuat Ollie nyaman. Padahal sosok itu masih asing dalam hidupnya.
"Baik sekali lelaki ini" batin Ollie.
"Terimakasih" gumam ollie yg disertai senyuman pada lelaki asing itu.
"Siapa namamu? Bagaimana kau tahu aku menangisi seseorang yg pergi dariku?" gumam Ollie berusaha mencari jawaban dari rasa penasarannya.
"Perkenalkan, aku Rafka" kata orang asing itu sembari mengulurkan tangannya.
"Namaku Lollita, tapi panggil saja aku Ollie" Ollie menjabat uluran tangan Rafka.
"Jadi... Bagaimana kau bisa tahu?" gumam Ollie yg masih dipenuhi rasa penasaran.
"Aku hanya memperhatikanmu ketika kau duduk disini, lalu ada seorang lelaki yg menghampirimu dan tersenyum padamu, namun ia lantas meninggalkanmu begitu saja dengan pergi bersama wanita itu." gumam rafka menjelaskan.
"Setelah itu kau iba padaku? Dan sekarang kau kesini hanya untuk menunjukkan bahwa aku patut dikasihani? Aku tak perlu itu!" gumam Ollie muali merasa tersinggung.
"Bukan, bukan begitu maksudku. Aku hanya tidak tega melihat ada wanita disakiti & menangis hanya untuk lelaki seperti itu. Aku hanya ingin menghiburmu bukan ingin mengasihanimu. Tapi jika kau keberatan, tak apa. Aku pergi saja. Maaf telah mengusikmu" gumam Rafka sembari berbalik dan melangkah meninggalkan Ollie.
Ollie melihat ketulusan Rafka saat ia mengatakan itu.
"Hey tunggu! aku sama sekali tak keberatan. Maafkan aku telah berburuk sangka padamu." Ollie menyesal.
"Tak apa. Oh ya, tunggu sebentar. Aku punya sesuatu untukmu." Kata Rafka ceria.
"Baiklah.." Ollie tersenyum.
Tak lama kemudian, Rafka kembali. Ollie kembali penasaran dengan sesuatu yg Rafka sembunyikan dibalik badannya.
"Taraaa..." gumam Rafka sembari menunjukkan sesuatu yg ia bawa.
"Ice cream coklat?" jawab Ollie terkejut.
"Bagaimana ia bisa tahu lagi?" batin Ollie semakin penasaran.
"Kenapa? Kamu tak menyukai ini?" jawab Rafka khawatir.
"Tidak. Aku sangat menyukainya. Tapi bagaimana kamu tahu?"
"Baguslah. Just feeling. Aku menyukai ini, dan aku berpikir kau juga akan menyukainya. Itu wajar kan?" kata Rafka sambil tertawa.
"Hmm.. ya! Cukup wajar." kata Ollie membalas gurauan Rafka.
"Satu untukmu, dan satu lagi untukku." Gumam Rafka sembari memberikan satu ice cream pada Ollie.
Tawa menyelimuti kebersamaan mereka di taman. Tak hanya menikmati ice cream itu, mereka juga berjalan-jalan di sekitar taman.
"Hari yang indah. Terimakasih telah menemaniku hari ini." Gumam Ollie tulus.
"Tentu. Dengan senang hati." Jawab Rafka. Matanya masih menunjukkan ketulusan.
"Perlu kuantarkan pulang?" Tanya Rafka khawatir.
"Tidak usah. Rumahku tak jauh dari sini, aku sudah terbiasa pulang sendiri." Jawab Ollie jujur.
"Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa! Semoga kita dipertemukan lagi oleh suatu kebetulan." Gumam Rafka sembari menyunggingkan senyum termanisnya.
"Hmm.. Ya. Semoga…" Jawab Ollie ragu.
Percakapan itu menuntut mereka untuk berpisah.
**
Keesokan harinya tanpa paksaan, tanpa kesengajaan. Takdir mengabulkan permohonan Rafka pada perpisahan mereka kemarin. Mereka kembali dipertemukan di suatu toko buku. Lagi-lagi mereka mempunyai kesamaan hobi.
Ya, membaca buku. Hal itulah membuat ketertarikan diantara keduanya semakin menjadi-jadi. Obrolan hangat seputar buku-buku favorit mereka pun mewarnai pertemuan mereka kali ini. Hari yang indah bagi Rafka, begitupun dengan Ollie. Bagi Ollie, setidaknya dengan bersama Rafka ia bisa sejenak melupakan masalah Mario yang masih membebani hatinya.
**
Keberuntungan masih menyertai Rafka. Harapannya untuk dipertemukan dengan Ollie oleh suatu kebetulan terjadi lagi. Sampai pada akhirnya, mereka bertukar nomor handphone, dan suatu ajakan makan malam dari Rafka menuntut mereka untuk kembali bertemu.
Ollie terlihat begitu anggun saat menghampiri Rafka yang sedang menjemputnya ke rumah. Yang biasanya ia hanya terbaluti busana casual seperti kaos, jeans, dan sepatu kets, kini ia terbaluti gaun yang indah, higheels, serta make up yang natural namun menambah pesona wanita cantik itu.
"Benar-benar cantik." Gumam Rafka dalam hati disertai dengan decakan kagum. Terpesona akan penampilan Ollie malam ini.
"Maaf ya membuatmu menunggu lama." Gumam Ollie ketika menghampiri Rafka yang menunggu di teras rumahnya.
"Tak apa. You look so beautiful tonight!" Rafka mengungkapkan kekagumannya.
"Thank you. You look so awesome!" Balas Ollie yang juga kagum.
Makan malam mereka berjalan sempurna. Alunan piano yang indah mengiringi makan malam yang disinari cahaya lilin itu. Membuat suasana makan malam mereka semakin romantis.
**
            Semakin lama kedekatan Ollie & Rafka hampir seperti sepasang kekasih. Hampir setiap hari mereka berkomunikasi lewat telepon. Juga berbicara tatap muka meskipun hanya di halaman rumah Ollie. Terkadang mereka mengisi waktu luang bersama dengan pergi ke toko buku, makan ice ream & jalan-jalan di taman, membuat 1000 origami bintang dengan harapan dalam setiap bintang dalam waktu yang cukup singkat, dan duduk berdua di rumput halaman rumah  Ollie untuk melihat indahnya bintang malam. Semuanya benar-benar berkesan dihati mereka satu sama lain.
             Meskipun sudah begitu dekat, namun tetap saja selalu menyebut nama Mario dalam setiap perakapan mereka. Rafka tetap menunjukkan ketertarikan pada topik apapun yang mereka bicarakan, meski selalu ada nama Mario didalamnya.
"Dulu juga Mario gini..." "Dulu juga aku dan Mario pernah...." "Buku ini pemberian dari Mario lho..." "Ini juga lagu kesukaan Mario..." Begitulah yang selalu Ollie ungkapkan.
"Mario, Mario, Mario.. Nama yang selalu kau sebut disetiap waktu. Segala tentangnya selalu membuatmu semangat untuk menceritakannya padaku." Batin Rafka kesal.
"Tapi tak apalah, jika dengan mengingat dan menceritakan segala tentangnya adalah bahagia bagimu." Gumam Rafka dalam hati mengerti perasaan Ollie.
"Tutur laku Rafka benar-benar seperti Mario. Membuatku semakin merindukannya." Batin Ollie.
**
            Sampai pada suatu malam Rafka mengungkapkan perasaannya pada Ollie saat mereka sedang menikmati indahnya bintang.
"Kamu tahu, aku selalu ingin menjadi bintang itu." Gumam Rafka memecah keheningan sembari menunjuk bintang yang paling terang.
"Alasannya?"
"Karena bintang itu selalu menemani dan menghiburmu dengan sinarnya, selalu melihatmu tersenyum ketika menatap keindahannya, selalu menjadi saksi bisu setiap moment berhargamu, menjadi tempat curahan hatimu ketika tak ada satupun orang yang kau percaya untuk itu. Dan aku ingin menjadi seperti itu. Aku ingin menikmati detik demi detikku bersamamu. Menghabiskan sisa waktuku hanya denganmu." Gumam Rafka jujur.
"Bukankah kita selalu menghabiskan waktu berdua akhir-akhir ini? Lalu apalagi yang kau inginkan?" Jawab Ollie.
"Rupanya kau belum juga mengerti akan perasaanku padamu. Aku jatuh hati padamu sejak pertama kita bertemu di taman. Melihatmu tersenyum, melihat tutur lakumu, mengenal setiap detail segala sesuatu yang kau suka, mengingat semua tentangmu adalah bahagiaku. Entah untukmu." Rafka menjelaskan perasaannya.
"Aku menghargai setiap ketulusanmu, perhatianmu, bahkan kasih sayangmu untukku. Tapi…" Ollie diam sejenak. "Seperti yang kau ketahui, hatiku masih untuk Mario. Bahkan sampai detik ini." Ungkap Ollie tentang perasaannya yang sebenarnya.
"Untuk apa masih mengharapkan dan menunggu ia yang jauh? Jika yang dekat saja tak berniat sedikitpun untuk pergi."
Ollie menarik nafas panjang "Entahlah…" Ia ragu untuk melanjutkan kata-katanya. "Rasa ini yang membuatku yakin untuk menunggunya. Mungkin, sampai aku tahu bagaimana cara melupakannya dan berhenti berharap padanya hingga perasaan ini benar-benar pergi dari hatiku barulah aku takkan menunggunya kembali."
"Bagaimana bisa perasaan itu pergi jika kau tak pernah membuka sedikitpun pintu hatimu? Sampai kapanpun ia akan tetap disana jika kau terus menutup pintu hatimu rapat-rapat seperti sekarang. Rasa itu takkan pernah pergi jika kau tak mau mencoba memberi kesempatan pada orang lain untuk menggantikan tempatnya dihatimu." Sergah Rafka.
"Apa yang Rafka katakan memang benar. Aku selalu menutup pintu hatiku meskipun di ruang ini telah penuh luka yang ia beri untukku." Gumam Ollie dalam hati.
"Apa pantas lelaki sebaik dan setulus dia aku sakiti dengan mengabaikan perasaannya. Rasanya itu terlalu keterlaluan." Batin Ollie semakin bimbang.
            Ollie menghembuskan nafas menyerah. Keheningan mulai menyergapi pertemuan mereka malam itu. Satu sama lain sibuk dengan pikirannya masing-masing. Ollie yang bimbang akan perasaannya. Juga Rafka yang mencoba meyakinkan Ollie akan perasaannya yang tulus, meski jauh dalam hatinya ia rapuh, ia terluka dengan jawaban Ollie tadi.
"Tapi aku takut…" Linangan air mata mulai muncul dimata Ollie. "Aku takut jika nanti diantara kita ada yang tersakiti."
"Mengapa harus takut jika kita belum mencobanya. Cobalah buka hatimu. Takkan ada yang tersakiti jika ketulusan selalu menyertai."
"Aku rasa semua ini terlalu cepat Raf. Kita baru saja saling mengenal."
"Jika hatiku sudah memilih untuk apa aku tunda lagi. Aku takkan memaksamu. Bukan status yang aku mau, bukan juga memilikimu. Tapi membahagiakanmu yang aku ingin."
            Keheningan kembali menyelimuti mereka.
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Menyia-nyiakan lelaki tulus dihadapanku ini, atau memberinya kesempatan untuk menggantikan posisi Mario? Tapi jelas-jelas aku tak mencintainya sedikitpun. Tapi aku tak punya hati untuk menyakiti lelaki setulus malaikat ini." Berbagai pertanyaan itu berkecamuk dalam benak Ollie. Kebimbangan masih menyertai hati Ollie.

Bersambung ke Persimpangan Hati (Part II)

Comments

Popular Posts