Akina-chan

Menyenangkan sekali bukan melihat orang yang kita sayangi tersenyum bahagia? Ya, itu yang aku rasakan sekarang. Memperhatikannya memang selalu memberikan bahagia tersendiri untukku. Dan tanpa kusadari, memperhatikannya telah menjadi rutinitasku. Rutinitas yang tak pernah kulewatkan setiap harinya, rutinitas favoritku.
Tulus senyumnya, sorot matanya, dan wajahnya yang berseri itu selalu ada ketika ia bersama Hanakimi. Wanita yang selama ini menjadi sahabatnya. Namun, tatapan Tatsuya untuk wanita itu menunjukkan arti lain, lebih dari sekedar sahabat. Matanya begitu bersinar ketika melihat Hanakimi. Selalu begitu. Setiap aku melihatnya, tatapannya tetap menunjukkan arti yang sama, cinta.

Tiba-tiba rasa sakit mulai mengunjungi hatiku, berdiam diri didalamnya. Menggerogoti pikiranku secara perlahan. Pikiranku yang telah terbang jauh membayangkan kebersamaanku dengannya kelak terpaksa harus terbangun melihat kenyataan yang begitu jelas didepan mataku. Nyatanya yang selalu Tatsu lihat itu Kimi, hanya Kimi. Bukan aku, Akina. Perih sekali. Keberadaan oksigen tiba-tiba saja seperti menghilang, seolah ia membenciku dan tak mau masuk ke paru-paruku yang mulai kering ini.
Aku memang sudah sering melihat pemandangan Tatsuya bersama senyum dan tatapannya yang tulus untuk Hanakimi. Bahkan wajah Tatsuya hampir selalu ada dalam setiap objek yang kupotret. Namun, lagi-lagi rasa sakit ini menghampiriku. Rasanya tetap sakit seperti baru pertama kali. Rasa sakit ini menyadarkanku akan kenyataan yang ada. Kenyataan yang seharusnya kulihat sejak dulu.
Mungkinkah Tatsuya akan melihatku nanti, dan bukan lagi hanya melihat Kimi? Entahlah, aku sendiri tak tahu. Memimpikannya saja bahkan sudah cukup bagiku. Meski itu bisa berakhir kapan saja ketika kenyataan mengusik mimpi indahku.

Tiba-tiba saja ada suara yang membuat pikiran Akina kembali pada pijakan semulanya, kenyataan. “Sedang apa kau sendirian disini?”
Akina menoleh kearah suara itu. “Ah, ternyata kamu Oniisan. Membuatku kaget saja.” Ternyata sumber suara itu Akira, laki-laki yang merupakan saudara kembarnya. “Sudah berapa lama sih kamu jadi saudara kembarku?” Ucapku disertai tawa. “Nggak hafal-hafal juga kebiasaan kembaranmu ini. Aku kan memang lebih senang pergi sendiri. Apalagi ke tempat ini.” Akina kembali mengingatkan saudara kembarnya itu. Mereka kini berada di Kojimachi Cafe dengan tempat duduk menghadap ke kaca jendela besar. Tempat kesukaan Akina.
Laki-laki memang tak suka memperdebatkan sesuatu yang tidak terlalu penting. Terbukti, Akira hanya meng-iya-kan omelan kembarannya yang lahir 5 menit setelahnya itu.
“Aku hanya mencari inspirasi, seperti biasa.” Jawab Akina sambil menunjukkan kamera yang dikalungkan dilehernya kepada Akira.
“Kau cemburu pada wanita itu?” Gumam Akira tiba-tiba. Menyadari sedari tadi pandangan kembaran perempuannya itu hanya tertuju pada kaca jendela besar disampingnya yang menyuguhkan pemandangan Tatsuya & Kimi, mereka sedang menikmati musim dingin dengan bermain Ice Skating, berdua.
Akina tersentak dengan ucapan Akira yang baru saja akan dicerna otaknya itu. Suasana hening menyergap mereka. Dadaku tiba-tiba saja menjadi terasa sesak. Aku menyesap kembali coklat panasku, berharap hati dan pikiranku akan sedikit membaik. Tapi ternyata dugaanku salah. Hatiku bahkan semakin sakit.
“Untuk apa? Aku tidak berhak untuk cemburu padanya.” Akina mencoba menutupi perasaannya sendiri.
“Sudahlah. Aku mengerti apa yang kaurasakan Akina-chan.”
Aku memang tidak pernah pandai untuk berpura-pura, bahkan Akira pun bisa semudah itu menebak perasaanku saat ini.
“Sejak kapan kau menyukai laki-laki itu?” Suara Akira lagi-lagi membuyarkan lamunanku. “Sejak… aku melihatnya berlatih untuk pekan seni yang diadakan kampus waktu itu.” Akira mengangguk mengerti. “Memangnya apa yang istimewa darinya? Kenapa ia bisa semudah itu mendapatkan hatimu?”
“Mungkin senyumannya, atau tatapan matanya yang hangat, atau kehebatannya dalam memainkan piano. Ah, entahlah…” Ada keheningan yang tiba-tiba bergabung diantara mereka. “Semua tentangnya begitu istimewa di hatiku.” Akina melanjutkan. Secercah senyum di wajahnya meyakinkan kata-kata yang baru ia ucapkan itu.
Akira memandangnya heran. “Sehebat itu kah dia? Kurasa aku masih meragukannya.”
“Tentu saja.” Ucap Akina yakin. Ia tak pernah merasa seyakin itu dengan perasaanya sebelumnya.

Akina kembali membayangkan pertemuan pertamanya dengan Tatsuya di ruang kesenian kampus mereka, Tokai Unversity. Sekitar dua minggu sebelum pertunjukkan di mulai. Ketika itu Tatsuya sedang berlatih untuk mempersiapkan penampilannya. Akina yang menjadi panitia pengurus pekan seni sedang melihat sejauh mana persiapan para mahasiswa yang akan menjadi penampil dalam pertunjukkan musik.
Dentingan bunyi tuts-tuts piano memenuhi ruangan tersebut. Akina jatuh cinta akan permainan pianonya. Meski, entah siapa dia yang memainkan jemarinya sehingga membentuk harmoni yang indah itu. Tanpa sadar Akina langsung memotret pianis tersebut.
Bunyi tepuk tangan dari beberapa mahasiswa yang menyaksikan permainan pianonya menutup penampilan pianis tersebut, mengejutkanku yang sedari tadi masih terhanyut dalam lagu yang ia mainkan.
“Hikari Tatsuya permainanmu bagus sekali. Penampilanmu nanti di pekan seni pasti akan memikat hati semua penonton.” Puji salah seorang mahasiswa perempuan, entah siapa perempuan itu, aku tidak mengenalnya.
“Terima kasih Kimi. Tapi sepertinya aku masih harus banyak berlatih untuk memikat hati. Apalagi hatimu.” Gurau Tatsuya menjawab pujian yang dilontarkan oleh seseorang yang dipanggilnya Kimi tadi. Setelah itu, mereka berdua duduk bersama, gurauan kecil Tatsu membuat percakapan mereka terus berlanjut.
Ternyata dia adalah Hikari Tatsuya. Sepertinya ia adalah salah satu mahasiswa seni musik di kampusku.

“Permainanmu bagus.” Puji Akina pada Tatsuya ketika Tatsuya baru saja keluar dari ruangan (aula). Sedari tadi aku memang menunggunya diluar aula. Beruntunglah ia keluar sendiri, tidak bersama perempuan yang ia panggil Kimi tadi.
“Terimakasih.” Jawab Tatsuya sembari membungkuk, setelah itu ia menyunggingkan seulas senyuman ramah. Entah kenapa senyuman Tatsuya membuat jantungnya berdebar kencang, sangat kencang. Akina ikkut membungkuk, menghormati Tatsuya. “Kau ikut tampil di pertunjukkan musik juga?”
“Ah, tidak. Aku hanya sebagai panitia pengurus acara pekan seni.” Sahut Akina. “Lagipula, aku tidak bisa bermain musik.” Gumam Akina jujur. Ya. Akina memang tak bisa bermain musik, karena ia bukan mahasiswa jurusan seni musik, tapi seni rupa. Panitia pengurus pekan seni merupakan perwakilan beberapa mahasiswa Tokai University dari sekolah (fakultas) seni, mulai dari jurusan seni musik, seni rupa, seni tari, sampai seni desain, karena di acara pekan seni akan ada pameran lukisan, fotograpi, pertunjukkan musik dan tari.
“Sungguh? Ah, kau pasti mahasiswa seni rupa kan?” Tebak Tatsuya. “Bagaimana kau bisa tahu?” Gumam Akina heran. Lalu Tatsuya menunjuk ke arah kamera yang sedari tadi tergantung di leherku. “Ah, ternyata ini. Ya. Tebakanmu tepat sekali. Hebat.” Akupun mengacungkan ibu jariku pada Tatsuya. Tatsuya membalas dengan seulas senyum yang lagi-lagi membuatku bahagia, sangat bahagia.
Ketika tatapanku bertemu dengan mata indahnya, rasanya begitu nyaman. Sinar matanya begitu teduh. Namun, entah mengapa rasanya sorot mata itu tidak begitu asing dipikirannya. Siapakah dia sebenarnya? Apakah aku pernah mengenalnya sebelum ini? Perasaan yang bermacam-macam mulai timbul dalam pikiranku yang mudah sekali berkhayal ini.
“Hajimemashite, watashi wa Hikari Tatsuya desu. Douzo yoroshiku onegaishimasu. (Perkenalkan, aku Hikari Tatsuya. Senang berkenalan denganmu.)” Tatsya membungkukan badan, memperkenalkan dirinya. Kemudian ia memberiku sepotong kertas kecil, kartu namanya.
“Watashi wa Matsuyama Akina. Douzo yoroshiku. (Aku Matsuyama Akina. Senang berkenalan denganmu.)” Akina balas membungkuk 90° kepada laki-laki yang baru saja membuatnya jatuh cinta ini.
“Namamu indah sekali.” Sepersekian detik ada hening yang menyelinap masuk dan berdiam diantara mereka. “Oh ya, setelah ini kau akan kemana?” Tatsuya memecah keheningan lebih awal. “Mmm.. Entah. Pulang mungkin.” Akina mengangkat bahu.
“Bagaimana kalau kita pulang bersama? Kau tinggal dimana?” Ajak Tatsuya.
Bermimpikah aku sekarang? Kenapa semuanya terasa begitu indah? Padahal aku baru saja mengenalmu, Tatsu. Tolong, beritahu aku bagaimana caranya agar jantungku ini tak berdetak begitu kencang, seperti sekarang ini.
Merasa pertanyaannya tak mendapat respon dari Akina, Tatsuya pun berdeham dan kembali bertanya. “Jadi, kau tinggal dimana?”
Ah, pikiranku memang mudah sekali untuk melayang. Mungkin ini perasaanku saja yang terlalu beratmosfer lebih. Tanpa pikir panjang lagi Akina pun menjawab. “Di apartemen Fuji di daerah Shibuya.”
“Wah kalau begitu tempat tinggal kita sama. Apartemenmu nomor berapa?” Tatsuya antusias mengetahui tempat tinggal mereka ternyata di daerah yang sama.
Akina terperanjat, terkejut mendengar jawaban yang baru saja Tatsu lontarkan. Hah? Sama? Kenapa aku merasa baru melihatmu? Atau mungkin aku pernah melihatmu di apartemen?
Akina mencoba mengingat-ingat kembali pertemuannya dengan beberapa tetangganya selama di apartemen. Namun, tetap saja nihil. Ingatannya tak bisa memecahkan teka-teki besar yang menghantui hatinya. “Benarkah? Tapi kurasa aku belum pernah melihatmu sebelumnya di apartemen. Mmm.. Aku di nomor 217. Kau?” Tatsuya benar-benar berhasil membuatku penasaran. “Ya. Kurasa aku juga baru melihatmu kali ini. Aku di nomor 221. Ternyata kita bertetangga.” Gumam Tatsuya disertai dengan tawanya.
Aku dan Tatsuya bertetangga? Benarkah ini? Berarti aku bisa melihatnya setiap hari. Atau mungkin aku bisa berbicara, sekedar memberikan sapaan padanya. Ah, membayangkannya saja sudah membuatku bahagia sekali.
Siapapun, tolong jangan bangunkan aku dari mimpi indah ini, aku ingin tetap seperti ini. Hari ini, esok, dan seterusnya. Aku ingin tetap melihat senyumnya.
Tanpa sadar Akina yang sedari tadi terhanyut dalam khayalan menyunggingkan senyumannya terus menerus.
Tatsuya bergumam dalam hatinya. Gadis ini manis sekali.
“Baiklah. Ayo kita pulang.” Ajak Akina bersemangat.

Salju yang turun malam itu begitu dingin, lebih dingin dari biasanya. Aku berjalan menyusuri jalan di daerah Shibuya untuk pulang bersama Tatsuya.
“Kina, bagaimana kalau kita makan malam dulu?” Usul Tatsuya. Akupun menoleh ke arah Tatsu. “Ide bagus.” Aku antusias sekali ketika ia mengajakku makan malam. Namun, rasanya lebih spesial ketika makan malam hasil masakan sendiri, terlebih lagi untuk sosok yang spesial. “Tapi bagaimana kalau kita makan malam di rumah (apartemen) saja? Aku yang masak!” Aku menawarkan pada Tatsu dengan senyum lebar yang tersungging dibibirku. “Kau bisa memasak? Ah. Baiklah. Aku ingin mencoba masakanmu.” Ucap Tatsu bersemangat. “Bisa sedikit.” Jawabku tersipu.
Kami berduapun mempercepat langkah kaki agar cepat sampai di Apartemen. Suhu yang dingin memang terkadang membuat perut lebih cepat lapar.
Sesampainya di apartemenku aku langsung membuat teh hangat untuk Tatsu. Setidaknya untuk menungguku sampai selesai memasak. “Ini sandal siapa?” Gumam Tatsu saat akan berganti sepatu menjadi sandal untuk di rumah. “Sudah pakai saja. Tidak apa-apa.” “Baiklah.” Tatsu menuruti kata-kataku.
“Kau tinggal sendiri disini?” Tanya Tatsu setelah menyesap teh yang kuberikan. “Tidak. Aku disini bersama saudara kembarku.” Ujarku sembari menyiapkan bahan-bahan untuk membuat misoshiru (sup miso), seperti tofu, rumput laut, dan lobak. Tatsu yang sedang asyik melihat beberapa benda di ruang tamuku pun langsung menoleh terkejut. “Kau punya saudara kembar?”
“Ya, tapi dia laki-laki.” Jawabku.
“Siapa?” Sepertinya Tatsu begitu penasaran dengan saudara kembarku. “Matsuyama Akira.” “Namanya mirip sekali dengan namamu.”
 “Ya. Bahkan wajah kamipun begitu mirip. Bisa dibilang dia adalah aku versi laki-laki.” Jawabku disertai tawa. Tatsu ikut tertawa mendengar kejujuranku tadi. “Lalu, kemana dia sekarang?” “Entahlah. Mungkin sedang makan malam bersama teman-temannya. Seperti biasa.” Ya, Akira memang sering pergi bersama teman-temannya, untuk sekedar makan malam / minum shake. “Lalu ayah ibumu?” Tanyanya lagi, kali ini semakin jauh. “Mereka tinggal di Kyoto. Bersama kakek nenekku juga.” Sepertinya dia penasaran sekali dengan keluargaku.

“Kau sedang memasak apa?” Tanya Tatsu sembari menghampiriku yang masih memasak di dapur kecilku ini. “Sup miso. Kau menyukainya bukan?” “Bagaimana kau bisa tahu aku menyukainya?” “Hanya menebak. Instingku biasanya berfungsi tepat pada saat seperti ini.” “Ya. Kau benar! Bolehkah aku membantumu.” “Tidak usah. Aku sudah selesai memasak. Ayo kita makan!”
“Itadakimasu! (Selamat makan!)” Seruku bersemangat. Tatsu menjawabnya dengan seruan serupa. Kami mulai lincah menggerakkan sumpit untuk mengambil bermacam sayuran yang ada di sup ini. Ketika makan, mataku tetap saja tak bisa berpaling dari Tatsu, melihat Tatsu yang begitu lahap menikmati sup buatanku. Sepertinya sup buatanku ini tidak terlalu buruk dilidahnya.
“Ternyata kau pandai memasak juga ya. Sup buatanmu ini mirip sekali dengan sup buatan ibuku.” Gumam Tatsu saat telah selesai makan. “Ah, yang benar saja? Sup buatan ibumu pasti jauh lebih enak daripada ini, sup buatan amatir sepertiku.” “Sungguh. Lain kali akan kuajak kau ke tempat ibuku untuk membuktikannya.”
***
            Sejak saat itu, aku dan Tatsu menjadi sering bertemu. Bahagia itu memang sederhana, cukup dengan bisa berbagi canda tawa bersamanya. Meskipun entah status apa yang harus kuberikan untuk hubungan kedekatan kami sekarang ini. Tapi aku bahagia bersamanya, sangat sangat bahagia.
            Sampai pada suatu malam, saat pertunjukkan musik di pekan seni berlangsung, sebuah kata yang menyayat hati keluar dari bibirnya yang selama ini menghasilkan senyum super manis yang membuatku jatuh cinta.
            “Lagu ini saya persembahkan untuk Kitano Hanakimi-san.” Ucapnya saat akan memulai permainan pianonya. Kenapa tiba-tiba dadaku terasa sakit sekali ketika Tatsu mengucapkan nama wanita itu? Bukankah memang sejak awal aku sudah tahu bahwa mereka memang begitu dekat. Harusnya aku sudah terbiasa dengan hal-hal seperti ini.
Kitano Hanakimi, sosok special dimata Tatsu yang masih mengakuinya sebagai ‘sahabat’. Ya, status mereka memang hanya sahabat, tapi mungkin saja itu hanyalah sebuah kamuflase. Karena jelas-jelas Tatsu memang sangat berharap untuk memiliki wanita itu.
Lalu apa arti kedekatan kita selama ini, Tatsu? Pernahkah kau menyadari ada hati yang begitu terluka saat ini? Hatiku.
Mungkin aku memang belum menjadi yang terbaik dimatanya, seperti Hanakimi. Kapan kamu akan sadar bahwa ada hati yang selalu menunggumu, Tatsu?

Comments

  1. ini cerita seri atau gimana... *brb* baca yang sebelumnya

    ReplyDelete
  2. Bukan kok, ini cerpen biasa yang sekali tamat hehe

    ReplyDelete
  3. Baru mampir udah suka sama tulisannya :)

    ReplyDelete
  4. Pengharapan semu akina terhadap tatsu, cerpennya keren

    ReplyDelete
  5. Pengharapan semu akina terhadap tatsu, cerpennya keren

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts