Perkara Harapan
Sore ini hujan turun lagi. Sambil menyesap coklat panasku,
aku memandang jendela kamarku yang penuh dengan rintikan air. Hujan memang
mesin waktu terbaik. Ia bisa membuatku kembali pada ingatan masa lalu. Ia selalu
berhasil membuatku mengenang kamu, lebih dekat dengan kamu. Membuat seluruh
rindu yang selama ini mengendap keluar sampai mataku tak bisa menahan air mata
yang tak ingin kukeluarkan lagi untukmu.
Entah karena kamupun merindukanku,
atau memang hanya kebetulan. Pesanmu datang tepat saat aku benar-benar ingin
berkomunikasi denganmu. Senyumku mengembang saat aku melihat kata sayang yang
kamu tuliskan untukku. Ini bukan kali pertama memang. Namun aku tetap merasa
bahagia, jantungku tetap melompat-lompat tak karuan melihatnya.
Semudah itu kamu bisa meluluhkan
hatiku. Berulang kali datang dan pergi dari hidupku. Berkali-kali meminta maaf,
berkali-kali pula kau hancurkan maaf yang telah kuberikan. Kamu tahu? Aku
memberikan maaf padamu itu sepaket dengan harapan bahwa kau tidak akan
mengecewakanku lagi. Namun ternyata kau tidak pernah bisa memenuhi harapanku.
**
"Hatimu yang dipermainkan dia, atau justru kamu yang main hati
padanya?"
Pertanyaan itu masih saja
menari-nari di pikiranku. Pertanyaan dari Nana, sahabatku. Ini bukan kali
pertama aku menceritakan tentang Dennis padanya. Mungkin dia sudah jemu
mendengar ceritaku, mengetahui aku melakukan kesalahan yang sama
berkali-kali : Luluh pada perlakuan manisnya Dennis.
Ah, namun bukankah tak akan ada
harapan yang salah menjatuhkan diri jika tak ada pihak yang sengaja menariknya?
Seperti teori sebab-akibat dalam bahasa Indonesia: Tak akan ada asap jika tak
ada api. Tak akan ada penikmat harapan jika tak ada pemberinya.
Lalu bagaiman bisa harapan menjatuhkan diri tanpa luka jika tak ada sedikitpun tangkapan dari pihak yang menariknya? Bagaimana bisa?
Lalu bagaiman bisa harapan menjatuhkan diri tanpa luka jika tak ada sedikitpun tangkapan dari pihak yang menariknya? Bagaimana bisa?
Rasanya baru kemarin aku merasa
Dennis seperti malaikat untukku. Dia selalu ada ketika aku membutuhkannya. Dia
selalu bisa membuatku merasa nyaman. Dan yang paling menyakitkan adalah dia
laki-laki pertama yang bisa meluluhkan hati orang tuaku. Namun sayangnya,
semua yang dia lakukan untukku dia lakukan juga untuk perempuan lain. Perempuan
lain. Tak hanya 1 atau 2 bahkan.
Bagaimana
bisa aku tak terluka dengan semua perlakuan Dennis? Sikapnya yang begiu manis
dan hangat benar-benar membuatku seolah hanya akulah yang dia sayangi. Aku tau,
mungkin ini hanya kebodohanku saja. Bodoh, karena mengira perasaanmu itu nyata.
Padahal hanya seperti pelangi. Indah memang, namun hanya ilusi semata. Tidak
nyata, tidak benar-benar nyata, dan tidak akan pernah menjadi kenyataan.
“Sudahlah. Laki-laki seperti dia tak
pantas kamu tangisi. Kamu hanya perlu berhenti melihatnya, berhenti terpaku
pada semua sikap manisnya.” Perintah Nana. Dan dia benar, aku hanya perlu
berhenti melihatmu, melihat ilusimu.
Berkali-kali kamu meminta maaf,
namun pantaskah maaf itu aku berikan untuk kamu hancurkan lagi dan lagi?
Entah siapa yang harus dikasihani.
Aku yang bodoh karena mempercayai semua ilusimu. Atau kamu yang bodoh karena
tak pernah bisa menghargai dan menjaga perasaan perempuan.


Comments
Post a Comment