Semesta dan Kamu
Semesta mempermainkanku lagi. Hujan,
halte, dan laki-laki menyebalkan itu benar-benar bukan kombinasi yang bagus.
Kenapa harus dia? Kenapa harus hanya berdua? Keterlaluan sekali
keisengan semesta ini. Batinku.
Beberapa menit ini berlalu dalam
diam, hening yang terasa sangat lama. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing.
Aku memperhatikan hujan yang turun semakin deras. Dia memperhatikan layar
smartphone-nya. Bus kota pun tak kunjung datang untuk memecahkan susasana ini. Yang
datang justru sebuah mobil sedan silver, berhenti di depan kami berdua.
“Lo pulang bareng gue aja, nunggu
bus kota kayaknya lama.“ Ajaknya ramah. Berbeda 180 derajat dengan dia yang
kutemukan kemarin.
Kemarin di tempat yang sama, di halte ini, aku masih belum mengenalnya. Saat di bus, kami duduk bersebelahan. Aku diam. Dia tidak bersuara. Hening. Sampai akhirnya dia memecah keheningan, berbicara basa-basi. Dan aku hanya menimpalinya dengan senyum, atau "iya", atau "oh begitu", lalu senyum lagi. Kemudian kami bertukar nama. Mungkin karena kesal lawan bicaranya sedingin suhu di kutub utara, cerita basa-basinya itu ia akhiri dengan "Iya cewek jutek". Betapa menyebalkannya orang asing yang sama sekali tak mengenalku men-judge-ku seperti itu. Isn't it annoying when a stranger call you "cewek jutek"?
Cowok nyebelin itu pasti
punya maksud aneh ngajak gue pulang. Gue kan gak terlalu kenal sama dia. Gimana
kalau nanti di jalan gue diapa-apain? Gimana kalau ternyata dia mau nyulik
gue ? Atau jangan-jangan dia mau… Aku cepat-cepat
menyingkirkan khayalan liar yang datang tanpa permisi itu. Efek terlalu
banyak nonton film sepertinya.
“Hey. Lo mau balik bareng gue nggak ?“ Ulangnya,
sepertinya dia menyadari aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri.
“Eh… hmmm…“ Aku malah gelagapan.
“Emang kita searah?“ Hanya itu yang keluar dari mulutku. Bodoh, padahal sudah
jelas kemarin aku dan dia naik bus ke arah yang sama, hanya saja dia lebih
dekat dan turun terlebih dulu. Di saat hujan deras seperti ini, mengharapkan
kendaraan umum datang tepat waktu itu sulit. Jadi, tumpangan gratis tak ada
salahnya, kan?
“Ya udah deh masuk dulu, ujannya
makin deres nih. Lo pasti dianter sampai rumah kok.“ Dia langsung meraih
tanganku, dan menariknya untuk masuk ke mobil. Padahal jelas-jelas aku belum menyetujui langsung
‘pulang bareng‘ ini.
“Jadi, rumah lo daerah mana?” Tanyanya setelah kita duduk
nyaman. Sebenarnya aku tidak benar-benar nyaman. Bagaimana bisa aku nyaman
duduk satu mobil dengan orang yang tak begitu kukenal. Aku merasakan dia
menoleh ke arahku, dan itu membuat aku semakin tidak nyaman.
Sepertinya dia merasakan ketidaknyamananku, karena tiba-tiba
saja dia tertawa diikuti dengan “Santai aja. Gue gak akan ngapa-ngapain elo
kok.” Kalimat terakhirnya ia ucapkan dengan intonasi lembut, terdengar lebih
tulus karena disertai dengan senyum. Dibalik
garis mukanya yang tegas, lelaki jangkung itu ternyata menyimpan lesung pipi
di senyumnya. Ah, Tuhan kenapa lelaki semenyebalkan dia dianugerahi senyum
semempesona itu? Meruntuhkan pertahananku saja.
Duh, apa yang barusan kupikirkan? Sekali menyebalkkan, tetap
saja menyebalkan! I think I care too much
about the wrong people. Tak seharusnya aku memperhatikan dia seperti itu.
"Rumah gue di daerah Antapani." Jawabku kemudian,
setelah menyingkirkan senyum dan lesung pipinya Arka. Senyumnya tadi ajaib, membuatku
lebih tenang.
"Kalau gitu deket lah." Timpalnya santai. Diapun
segera memerintah si sopir yang ia panggil De itu untuk mengantarku lebih dulu.
“Oh ya, kemaren lo bilang siapa nama lo tuh ? Gue lupa. Cina ? Eh atau apa? " Katanya sambil tertawa
jail. Mulai kembali rohnya yang menyebalkan.
"Kyna. K-y-n-a. Bukan cina,
bapak Arka." Balasku
dengan sebal.
“Tapi kayaknya lebih lucu gue panggil cina deh.” Tawanya kali ini lebih menjadi-jadi. Ah, tak bisa apa dia bersikap
normal lebih lama? Kadar menyebalkannya sudah overdosis.
”Tapi sayangnya buat gue itu gak lucu." Ucapku sambil
tersenyum hambar, saking sebalnya dengan makhluk itu.
“Udah deh, cina aja, lebih gampang tau.” Bujuknya masih
dengan tawa jail.
“Whatever deh. Gue males debat sama lo.” Ujarku datar, akhirnya
menyerah pada makhluk menyebalkan itu.
Mendengar tawa kepuasannya muncul lagi, aku langsung memalingkan
wajah ke jendela. Lebih menyenangkan melihat tetesan-tetesan hujan yang menyapu
kekeringan di kaca mobil. Hujan masih saja turun, padahal sudah lebih dari
setengah jam di perjalanan. Dan macet membiarkanku terjebak lama-lama dengan
laki-laki ini. Ah, semesta, lengkap
sekali keisenganmu hari ini.
“Teh, jangan
jutek-jutek sama a Arka-nya, nanti malah jadi cinta loh.” Goda si sopir. Aku langsung membelalakkan mata, dan menatap Arka dengan
jijik. “Hah, cinta? Gak mungkin.” Timpalku
dengan tegas.
Reaksi Arka justru berbanding
terbalik denganku. Ia
tertawa puas, seolah mendapat pembelaan. “Bener tuh kata adek gue. Hati-hati.
Pesona gue emang gampang bikin cewek jatuh cinta. “ Gumamnya dengan kedua alis terangkat. Aku
malah bergidik melihat perilaku Arka barusan. Adik kakak sama saja
menyebalkannya.
“Cina rumah lo dimana?” Ah, lagi-lagi dia memanggilku ‘cina’.
Tapi mau tidak mau harus kujawab pertanyaan pentingnya ini. “Di komplek indah, dari sini belok kiri.”
“Terus kemana, teh?“ Tanya adiknya
Arka setelah melihat nama komplek rumahku. “Gue turun depan komplek aja, udah deket
rumah kok. ” Tak lama, mobil berhenti.
Tepat ketika aku akan turun dia
meraih lenganku. “Ujannya masih deres. Lo pake ini deh“ Perintahnya sambil
menyodorkan sebuah jaket berwarna coklat tua. Dan aku hanya memberikan tatapan
heran padanya. “Ini jaket gue, lo pake aja.“ Dia meletakan jaketnya di
genggamanku. Akupun turun setelah mengucapkan terima kasih (lagi) pada Arka dan
adiknya.
Dia itu makhluk macam apa sih? Kesan
pertama dia bertingkah menyebalkan dan memanggilku ‘cewek jutek‘, sekarang
justru manis sekali. Terlebih ketika aku menemukan selembar post-it jatuh dari
jaketnya. Post-it berwarna biru langit dengan tulisan tangan “Makasih buat pulang barengnya. Kalau lo kangen bisa
cari gue di: 08123456789 :p“ itu semakin membuatku tak habis
pikir. Selain menyebalkan, makhluk itu tingkat keperayaan dirinya sudah
melewati batas kewajaran. “Dasar
cowok aneh.“
***
“Hubungi dia aja, Na. Lo masih
nyimpen post-it itu kan?“ Livia, sahabatku, menyarankan.
Setelah ‘pulang bareng’ itu, hampir
seminggu yang lalu, aku tak pernah melihat Arka lagi. Baik di halte
depan kampus, jalanan dekat halte, maupun di bus. Tentu, aku sudah menceritakan tentang
cowok menyebalkan itu pada Livi.
Aku sedikit ragu untuk melakukan apa
yang ia sarankan. Aku membayangkan tingkah lakunya yang memang sedikit meleset
dari kata normal. Tapi tanganku tetap mencari post-it itu di
laci-laci meja. Aku ingat, dulu aku menyimpannya dengan noteku. Syukurlah, ternyata masih ada. Gumamku
dalam hati.
"Kalau
nanti dia malah geer gimana, Liv?"
" Lagian
kan cuma buat balikin jaketnya. Atau lo ngarep lebih ya ? Hayoo." Goda perempuan mungil
berkacamata itu. Aku cepat-cepat menggeleng. Apa hal lain yang harus kuharapkan dari pertemuan
dengannya, selain karena jaket ini? Tak ada, sama sekali tak ada, dan memang
tak seharusnya ada.
Yang aku
lakukan malah mencari namanya di social media. Berharap
menemukan sedikit informasi tentangnya. Hasilnya tetap saja nihil.
"Yaiyalah
gak bakal langsung ada, Na. Emang di dunia ini cowok bernama Arka cuma
satu?" Gumam Livi melihat kelakuanku.
Kalau
tidak ada jaket coklat ini, mungkin aku sudah menganggap Arka itu imajinasiku
saja. Karena keberadaannya yang hanya sekejap. Tapi mengesankan.
"Kata
lo dia pernah cerita banyak waktu di bus itu?"
“Iya,
tapi gue sama sekali gak inget apa yang dia certain, nyimak apa yang dia
omongin aja enggak kayaknya.”
“Hadeuh,
Na. Cuek lo kebangetan.” Ujar Livi sambil menepuk jidatnya. Dan aku hanya
memberikan cengiran sebagai respon untuknya.
“Udah
deh, lo hubungi aja nomer teleponnya. Atau sms kek.“
Dengan
enggan akupun mengetikkan pesan untuk laki-laki itu, menghapusnya, mencari
kata-kata yang pas, mengetiknya, menghapusnya lagi. Ah, kenapa semua kata
terasa kurang tepat begini?
“Lo
pastiin aja dulu, itu bener Arka bukan.“ Seolah Livi bisa membaca kerisauanku.
Aku
menunjukkan apa yang kuketik pada Livi. Di layar tertera kalimat: Ini Arka?
Seketika Livi langsung tertawa. Aku menatap heran. “Enggak gitu juga kali, Na.
Basa-basi dikit kek, gak usah langsung gitu.“
Akhirnya yang kuketik: Hey Arka.
Jaket lo masih di gue nih. Bisa ketemu? Gue mau balikin.Tapi masih belum
kutekan send. “Kirim, jangan, kirim, jangan, kirim…..” Gumamku ragu. Perempuan
itu makhluk sejuta gengsi, jadi wajar kan kalau aku begini. “Harus nih gue yang
ngajak ketemu gini?“
“Just do it, Na. Kelamaan mikir gak
akan bisa bikin lo ketemu Arka.“ Tanpa menunggu reaksiku, Livi langsung menekan
send.
“Yah, Liv.
Tuh kan jadi terkirim.” Ujarku sambil manyun.
“Bagus
dong? Lagian elo kelamaan mikirnya.“ Sahutnya sambil tersenyum jail.
Lagu
Lucky-nya Jason Mraz berbunyi dari handphoneku, pertanda ada telepon masuk.
Kulihat nomornya, tak dikenal. Agak ragu untuk menerimanya. Tapi kemudian,
tanpa aba-aba Livi menekan tombol hijau dan loud speaker. “Siapa tau Arka.”
“Hey
cina. Kok baru nyariin gue sih.” Kalimat pertama yang kudengar dari
Arka, tanpa basa-basi sama sekali.
“Masih
untung gue inget lo juga.” Jawabku sebal.
Arka
tertawa dengan khas tawa jailnya. “Bukannya tiap hari lo juga inget terus sama
gue? Ayo ngaku deh!”
“Hey
Tuan Geer, gue hubungi lo juga cuma pengen balikin jaket lo ini.”
“Tapi gue udah pulang ke Jakarta nih,
gimana dong?” Nada bicaranya berubah serius. “Emang dia orang
Jakarta?“ Bisik Livi padaku. Bahuku terangkat, isyarat tidak tahu. Panggilan
ini sedari tadi aku louds speaker-kan.
“Ya
udah, kirimin aja alamat lo, nanti gue kirim via pos.” Jawabku tak kalah
serius.
"Eh,
engga deh. Kita ketemu aja ya."
"Kapan?"
Timpalku cepat. Seolah antusias mendengar kata ‘kita ketemu aja’. Padahal
sebenarnya tak begitu.
Arka
tertawa lagi. Puas sekali. “Lo kangen banget ya sama gue? Sampe
gak sabar gitu mau ketemu“
“Ya
ampun, please deh Tuan Geer, kadar geer lo turunin 200% kek. Gue cuma gak mau
ngerasa berhutang sama lo gara-gara jaket ini.“
Arka tertawa. Lagi. Namun kali
ini tak lama. Ia diam beberapa saat.
“Simpen aja jaketnya buat lo.
Gue cuma pengen ketemu lo, Kyna.“ Entah itu bercanda atau bukan.
Yang jelas saat ia bicara itu, ia sama sekali tidak tertawa, dan tak ada nada
jail di suaranya. Ia juga memanggil namaku dengan benar, bukan ‘cina‘ lagi. Itu
membuatku hanya bisa terdiam.
“Uhhhh. So sweet.“ Timpal Livi, menggodaku.
Setelah menyepakati waktu dan tempat untuk pertemuan kita
nanti, ia berpamitan, lalu sambungan telepon itu terputus. Livia masih saja
menggodaku.
***
Hari ini aku bertemu dengan makhluk
menyebalkan bernama Arka lagi. Di toko buku. Kenapa? Karena aku suka toko buku.
Diapun meyepakatinya.
Dia masih tetap sebagai Tuan Geer
yang aku kenal. Tapi entah mengapa hari ini dia terasa menyenangkan. Bagaimana
tidak, dia sama sekali tidak bosan menemaniku berlama-lama di toko buku.
Bahkan, ternyata kami sama-sama suka membaca novel, sama-sama suka
karya-karyanya J.K. Rowling, Dee, Prisca Primasari, sampai karya humornya
Raditya Dika.
Menyenangkan bukan saat berlama-lama bersama seseorang yang
ternyata memiliki kegemaran yang sama?
Alhasil, aku baru pulang jam 8
malam. Beberapa jam di toko buku, dan makan malam.
Sepucuk sms datang dari Arka setelah
aku membersihkan diri dan membenamkan tubuh di kasur.
From: Cowok Nyebelin
Makasih buat hari yang menyenangkan
ini. Next time lagi ya.
Aku
membalasnya.
Dengan senang hati. :)
Sepertinya aku mulai nyaman berteman dengan cowok yang
awalnya menyebalkan itu. Ini aneh. Sebenarnya aku memang bukan tipe pemilih
untuk berteman. Hanya saja aku sulit untuk merasa nyaman saat
berteman dengan orang baru.
Mungkin karena hobi yang sama. Gumamku dalam
hati, tersenyum kecil. Tidurku sepertinya akan nyenyak karena hari ini,
menyenangkan.


Keren banget, nggak sia-sia bacanya :)
ReplyDeleteMakasih udah baca :)
ReplyDeleteKeren teh. Mudah2 an ada lanjutannya yah :)
ReplyDeleteSmakin d baca smakin penasaran.. lnjutannya mana?? Hihihi.. salam.. sibocahlaliomah.blogspot.com
ReplyDelete