Persimpangan Hati (II)
Cerita sebelumnya : Persimpangan Hati
Biarkan hatimu yang memilih, terpaku pada masa lalu atau berjalan menuju masa depan
cerah yang telah menantimu.
Kebimbangan
masih menyertai hati Ollie.
"Baiklah.. Bantu aku untuk
membuat perasaan ini pergi. Ajari aku cara mencintaimu."
Gumam Ollie.
Akhirnya
jawaban yang Rafka harapkan terucap juga dari bibir gadis itu.
"Dengan sepenuh hati aku akan
melakukannya. Kita akan bersama-sama melakukannya." Jawab Rafka. Hatinya
lega, senyumannya kali ini benar-benar lepas. Jika hatinya itu bom, mungkin
kini sudah meledak karena saking bahagianya.
"Terimakasih karena kau telah
mengerti aku." Gumam Ollie. Air matanya yang kini tak tertahan lagi mulai
membasahi pipinya. Namun kali ini air mata itu adalah air mata kebahagiaan.
Rafka
pun memeluknya, membiarkan tetes demi tetes air mata itu jatuh di pundaknya.
**
Dari
hari ke hari, hubungan mereka semakin baik. Kini hampir tak pernah terdengar
lagi nama ‘Mario‘ keluar dari bibir gadis yang Rafka cintai ini. Tidak seperti
pada awal hubungan mereka, hampir selalu ada nama Mario disebut pada setiap
perakapan.
Hubungan
Ollie & Rafka hampir seperti jalan tol yang mulus tanpa adanya hambatan
yang berarti. Ollie
bahkan telah Rafka kenalkan pada kedua orang tuanya, begitupun dengan Rafka
yang telah Ollie bawa kehadapan orang tuanya.
Hari-hari mereka terasa indah bila mereka lewati bersama, berdua. Kejutan sudah menjadi hal yang biasa di setiap pertemuan mereka. Perlahan-lahan Ollie mulai menetralkan perasaannya pada Mario dan berusaha lebih keras untuk bisa mencinta Rafka, kekasihnya.
**
Pada saat Ollie ulang tahun Rafka lah orang pertama yang mengucapkan 'Happy Birthday' padanya. Berbagai kejutanpun telah Rafka siapkan. Berlibur ke pulau Tidung yang indah menjadi hadiah istimewa untuk Ollie. Menghabiskan waktu di pulau indah itu, berdua, tanpa beban, tanpa tangisan. Benar-benar hadiah terindah bagi Ollie.
Belum lagi pada malam harinya mereka candle light dinner. Selain itu Rafka menghadiahinya lagi. Ia menyanyikan lagu "Beause of You" milik Keith Martin sembari memainkan jarinya diatas tuts-tuts piano, khusus untuk Ollie. Alunan musik dari piano yang ia mainkan dan lagu yang ia nyanyikan dengan sepenuh hati untuk Ollie menghasilkan harmonisasi musik yang indah.
Ollie tak habis pikir, Rafka selalu saja membuat kekagumannya bertambah, Rafka selalu bisa membuatnya tersenyum bahagia.
"Terimakasih Rafka, kau benar-benar membuatku bahagia." Gumam Ollie dalam hati terharu melihat Rafka yang begitu tulus membahagiakannya.
**
Seperti
biasa, malam ini Rafka berkunjung ke rumah Ollie. Ternyata Ollie sudah terlelap
dalam tidurnya di sofa ruang tamu.
"Mungkin ia terlalu lelah hari
ini. Maafkan aku yang membuatmu menunggu terlalu lama." kata Rafka sembari
mengelus kepala Ollie.
Rafka pun
berniat untuk menyelimuti tubuh mungil Ollie. Namun saat ia membuka jaketnya
dan hendak menyelimuti Ollie, Rafka melihat Ollie sedang memeluk sesuatu.
Selembar kertas yang mengabadikan moment kebersamaan antar Ollie & Mario,
dibalik foto itu ada tulisan "pengisi hati yang takkan terganti". Rafka hanya
tersenyum hambar setelah melihat foto itu.
"Ya. Dia memang takkan
tergantikan dihatimu Lie." Ada jeda sampai Rafka melanjutkan kembali
kata-katanya. Ada
segores luka pengkhianatan yang membuat hatinya teramat pilu.
"Terimakasih..."
Rafka menarik nafas panjang,
kekecewaannya yg teramat dalam telah menyesaki dadanya.
"Terimakasih karena kau telah menemaniku dengan segala kepalsuanmu."
"Bodohnya
aku. Harus memaksakan perasaanku padamu, padahal sejak awal aku tahu bahwa
hatimu hanya untuknya. Semuanya kini sia-sia." batin Rafka semakin tak
menentu karena luka yang Ollie ciptakan.
Setelah ia menyelimuti gadis itu, ia
pergi dengan sejuta luka.
"Benar katamu. Akhirnya
sekarang terbukti. Aku yang menanggung resikonya, resiko tersakiti olehmu yang
masih mencintainya." Batin Rafka semakin kacau.
Sampai
pagi hari menjelang, ia tak bisa untuk tertidur dengan nyenyak. Kejadian
semalam masih menjadi beban dipikirannya.
Saat
jam mulai menunjukkan pukul 06.00 handphonenya berbunyi. Seperti biasa. Ollie
yang mengirimnya sebuah pesan singkat.
‘Selamat
pagi semangatku. Semoga hari ini menjadi hari yang
indah :) I love you.’
‘Selamat pagi sayang. Love you too. Hari ini tak ada jadwal kuliah kan? Bolehkah kita bertemu pagi
ini? Ada hal yang ingin ku bicarakan.’
‘Jelas boleh. Ada apa ?
Sepertinya sesuatu yang penting.’
‘Memang. Aku tunggu di taman, jam 9’
Ollie mulai merasakan hal yang
janggal pada Rafka. Tak seperti biasanya ia meminta untuk bertemu dengan cara
seperti ini.
"Ada
apa denganmu Raf?" Batin Ollie khawatir.
**
Jam 9 tepat mereka berdua sudah
bertemu di taman.
Karena
tak ingin ada kepalsuan lagi diantara mereka Rafka pun memulai pembiaraan yang
menjurus ke arah masalah sebenarnya.
"Aku
akan merelakanmu pergi jika itulah bahagiamu, aku tak ingin Ollie yang
bersamaku saat ini adalah Ollie yang penuh kepalsuan & kepura-puraan."
Gumam Rafka memulai.
"Aku
tak mengerti maksudmu. Ada apa sebenarnya?" Tanya Ollie yang tak mengerti
akan masalah yang Rafka bicarakan.
"Awalnya
aku memang benar-benar marah, kecewa, dan merasa dikhianati olehmu. Oleh foto
yang bertuliskan ‘Pengisi Hati yang Takkan Terganti’ itu. Namun kini aku mulai
mengerti hatimu. Sekuat apapun aku berusaha untuk memasuki relung hatimu, tetap
saja aku takkan bisa menggantikan tempat Mario dihatimu Lie." Gumam Rafka
menjelaskan semua yang telah nyesaki hatinya.
"Aku
tak bermaksud melakukan pengkhianatan. Aku
hanya…" Ollie tak mampu melanjutkan kata-katanya. Hatinya mulai terasa
sakit, seolah merasakan luka pengkhianatan yang Rafka rasakan saat ini.
"Sudahlah Lie. Kamu tak usah
membohongi hatimu lagi. Aku memang mencintaimu, bahkan melebihi diriku sendiri.
Tapi aku tak ingin kau tersiksa dengan berpura-pura seperti ini. Silahkan kejar
ia yang masih menempati ruang hatimu. Aku tak akan mengusik kau
dengannya."
Air
mata Ollie mulai berjatuh tak tertahankan, membasahi lekukan tulang
pipinya.
"Maafkan aku..." Lagi-lagi
Ollie tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Hanya tangisan yang menjelaskannya.
Rafka
memang terluka, tapi kini lukanya semakin dalam ketika melihat gadis yang ia
cintai menagis karenanya. Rafka menghapus air mata Ollie dengan punggung jari
telunjuknya. Namun air yang jatuh dari mata Ollie yang indah malah semakin
deras. Rafka pun langsung memeluk Ollie.Membiarkan beban yang ada dalam pikiran
mereka masing-masing sejenak saja sirna.
"Maafkan aku. Aku hanya
ingin kau jujur, tak perlu membohongi dirimu sendiri. Aku mengerti semua ini
tak mudah. Seberapa lamapun kita mencobanya, jika hatimu menolak semuanya akan
sia-sia."
"Dengarkan penjelasanku
dulu." Ollie melapaskan tubuhnya dari hangatnya pelukan Rafka.
"Malam
itu... aku benar-benar tak mengerti tiba-tiba aku teringat akan dia. Tanpa
pikir panjang, akupun mengambil foto kita berdua. Dan tulisan itu aku tulis
saat kita masih berhubungan. Aku tahu kini keadaannya lain. Aku hanya ingin
memuaskan hasrat hatiku yg tiba-tiba teringat tentangnya. Apa salah jika aku
merindukan ia layaknya rindu pada teman yg sudah lama tak berjumpa? Aku hanya
sekedar rindu, tak lebih dari itu!"
"Bukankah takkan rindu untuknya
bila kau tak mencintainya? Jangan jadikan status teman sebagai pengkamuflasean
perasaanmu sebenarnya. Temui dia. Apa hanya dengan diam rindumu padanya bisa
terobati?" Kata Rafka, nada bicaranya sudah mulai melemah.
Mereka
berdua terdiam, sama-sama hanyut dalam pikirannya masing-masing.
"Kau sama sekali tak menjawab
apakah kau masih mencintainya. Dugaanku benar, sengan diammu aku tahu bahwa kau
memang masih mencintai dia." Batin Rafka
"Ya, aku memang masih
mencintainya. Tapi aku tak ingin mengecewakanmu sengan kembali menemuinya."
Batin Ollie.
"Jadi... Tunggu apa lagi?
Silahkan temui dia. Jangan siksa hatimu dengan rindu itu." Kata Rafka.
"Tidak usah. Bagiku beginipun
sudah cukup. Aku hanya mau kau memaafkanku." Pinta Ollie.
"Tak ada yang perlu kumaafkan,
ini semua bukan salahmu. Mungkin aku saja yang terlalu memaksakan perasaanku
padamu."
"Kalau begitu bisakah kita
menganggap semuanya baik-baik saja. Kembali seperti biasa. Aku tak mau ada
pertengkaran ini lagi."
Rafka
menarik nafas, berat sekali rasanya. Oksigen yang ada di paru-parunya seperti
hilang, yang ada hanya satu luka yang teramat dalam.
"Jadi maukah kau memberiku
kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semuanya?"
Rafka
masih terdiam.
"Aku tahu kau hanya tak ingin
menyakitiku dengan memilih kembali bersamanya. Tapi jika kau memintaku untuk
melanjutkan kepalsuan ini malah membuatku semakin terluka Lie." Batin
Rafka.
"Memberimu kesempatan sama dengan menyakiti hati kita satu sama lain Lie." Gumam Rafka.
"Aku akan memperbaiki semuanya, agar tak ada lagi luka diantara kita." Ollie meyakinkan.
"Mana yang harus aku pilih? Keduanya sama-sama akan menimbulkan luka." Gumam Rafka dalam hati, hatinya diliputi perasaan dilema yang sangat hebat.
Bersambung ke Persimpangan Hati (III)


oh this is a very informative
ReplyDeletepost! i actually enjoyed reading
this - very well explained too. thanks, this is very useful!
Great information..
Earthmoving Parts - Munnar
Thank you so much.
ReplyDeleteI'm so glad to know you enjoy my serial fiction :)