Pertemuan
“Percayalah,
tulang rusuk tidak akan pernah tertukar.
Seberapa jauh
& seberapa lama pun kau menghindarinya, takdir akan membawanya kembali
padamu diwaktu yang tepat dengan cara yang indah”
Kaisha adalah anak bungsu dari 2
bersaudara yang mandiri. Cewek supel yang hobi mengkhayal & melukis ini
mencintai segala tentang seni, impiannya pergi ke Paris dan mengikuti pameran
lukisan disana. Tapi sayang hobi melukisnya itu sangat ditentang oleh ayahnya,
ia harus mencuri-curi waktu setiap akan melukis. Ayahnya juga selalu mengatur
segala tentangnya. Bahkan setelah lulus SMA ayahnya langsung memilihkan
Universitas di Jakarta untuk ia kuliah, ia harus kuliah di fk. ekonomi agar
dapat meneruskan usaha bisnis ayahnya, padahal jelas-jelas ia tidak pernah
beminat sedikit pun untuk itu. Tapi demi kebahagiaan kedua orangtuanya ia rela
melakukannya.
Sudah
1 semester ia kuliah. Ayah & ibunya sangat senang & bangga karena ia
mendapat IPK 3,7. Tapi ia sama sekali tidak senang, ia merasa ini bukan
dirinya, bukan ini yang ia inginkan.
Saat
kuliahnya libur, Kaisha kembali melukis. Ketika ia sedang melukis, ayahnya
memergokinya. Ayahnya marah, lukisan Kaisha memang indah tapi itu malah membuat
hatinya sangat pedih, kecewa & marah, ia kembali teringat dengan kejadian
beberapa puluh tahun yang lalu.
Saat itu ayah Kaisha sedang
menghadiri pameran lukisannya yang sangat besar. Tapi saat ia pulang dari pameran
itu ayahnya (kakeknya Kaisha) sudah meninggal. Ia ingat pesan ayahnya sebelum
ia pergi, ayahnya sangat melarang ia melukis, apalagi sampai menggelar pameran
hasil karyanya. Ia pun sangat menyesal telah melawan ayahnya, sejak saat itu ia
berjanji tidak akan & tidak mau melukis lagi.
Kaisha tak mengerti kenapa ayahnya
selalu marah setiap ia melukis & melarangnya melukis, ayahnya tidak pernah
menjelaskan alasannya pada Kaisha.
**
Di
kampus terdengar kabar bahwa esok lusa akan digelar pertunjukkan pentas seni
secara besar-besaran dengan kolaborasi antara mahasiswa fk. seni dengan
William, seorang pianis Indonesia lulusan Julliard, A.S. Mendengar hal itu
Kaisha & Auryn sahabatnya sangat tertarik untuk melihat pertunjukkan itu.
"Wah
seru tuh kayanya, kampus kita bakal kedatangan pianis lulusanJulliard."
Auryn terlihat tak sabar untuk melihat pertunjukkan itu.
"Iya nih, pasti ntar keren banget deh
pertunjukkannya." Sambung Kaisha.
**
Keesokkan
harinya ketika Kaisha sedang asyik melukis di taman kampus tiba-tiba ada
seseorang yang menghampirinya.
"Lukisanmu bagus." Gumam seorang cowok yang entah sejak kapan
memperhatikan Kaisha membuat lukisan tersebut.
Kaisha
terkejut, dan menatapnya heran. Dari gaya bicaranya sepertinya dia orang asing
(bukan orang Indonesia), wajahnya juga oriental, tatapan dari mata sipitnya
benar-benar menyejukkan hati Kaisha.
Setelah sepersekian detik Kaisha terhanyut dalam lamunannya ia tersadar.
"Thanks." Jawab Kaisha sembari tersenyum.
Cowok itu mengangguk pelan dan tersenyum
padanya. Ia langsung pergi begitu saja meninggalkan Kaisha yang sedang
terpesona karena senyumannya tadi, Kaishapun semakin penasaran dengan cowok
itu.
**
Hari pertunjukkan pentas seni kampus
pun tiba. Di awal pertunjukkan penonton sudah disuguhi penampilan-penampilan
luar biasa dari anak-anak fk. Seni. Sekarang tiba saatnya untuk melihat
penampilan William yang selama ini membuat Kaisha penasaran.
"Hadirin yang terhormat, mari
kita saksikan penampilan William Martadinata." Sambut host ketika William
sudah siap memainkan jemarinya diatas piano.
"Hah? Jadi ternyata cowok itu William ?" Gumam Kaisha
terkejut.
Dibenaknya kembali terbersit kejadian sore itu, tepatnya
kemarin lusa. Saat ia sedang melukis datanglah seorang cowok yang memuji
lukisannya. Cowok itu bak pangeran tampan yang membuat Kaisha jatuh cinta
dengan senyuman & sorot matanya yang teduh. Ternyata pangeran yang telah mencuri
hatinya adalah William. Kaisha senang sekali mengetahui hal itu.
"Eh Sha ngapain lo senyum-senyum sendiri?" Auryn
yang berada disebelah Kaisha heran melihat ia sedari tadi bertingkah aneh bak
orang yang sedang jatuh cinta.
"Hmm... Eh.. Engga kok, siapa yang senyum sendiri?"
Jawab Kaisha gugup.
"Ya elo lah. Orang dari tadi gue liat lo gitu. Terpesona
lo sama dia?"
"Banget." Gumam Kaisha sambil tertawa menanggapi
lelucon yang dilontarkan sahabatnya itu.
Permainan piano William sangat
mengagumkan, gerakan jarinya yang menari diatas
tuts-tuts pianonya menghasilkan alunan nada yang indah, sehingga semua
penonton pun terpesona melihatnya. Mala mini William memainkan intrumen lagu
Because of You, The Way You Look at Me, dan satu lagu ciptaannya, berjudul You.
Setelah pertujukkan selesai Kaisha
& Auryn tak sengaja bertemu dengan Willian. Saat bertemu, Auryn yang
terpesona dengan penampilan William terus saja melontarkan semua pujiannya,
saat William tersenyum ia baru berhenti memujinya. Berbeda dengan Kaisha,
walaupun kagum ia lebih banyak diam & hanya sesekali tersenyum. Dan lagi-lagi
ketika William menatapnya, lidahnya terasa kelu, sorot matanya benar-benar
teduh, dan membuat hatinya bergetar. Ternyata sama seperti Kaisha, menurut
William segala hal tentang Kaisha telah membuat dia jatuh hati padanya bahkan
sejak pertama mereka bertemu. Mereka pun akhirnya makan malam bersama, dan
membicarakan tentang diri mereka masing-masing agar bisa saling mengenal.
Pertemuan
kemarin benar-benar berkesan bagi Kaisha, begitu juga bagi William. Setelah pertemuan
itu, berlanjutlah pertemuan-pertemuan antara mereka berdua, sampai akhirnya
kedekatan mereka bagaikan sepasang kekasih. Terlebih lagi ketika Kaisha liburan
di rumah omanya di Bandung, secara kebetulan William juga liburan di daerah
yang sama. Hampir setiap hari mereka bertemu dan berjalan-jalan disekitar perkebunan
teh. Semakin lama mereka berdua semakin dekat. William pun sampai memotret
setiap moment berharga bersama Kaisha dengan kameranya.
"Ini
untukmu" Gumam William sambil memberikan sebuah album foto yang berjudul “Aku
dan Segala yang Kuinginkan“ kepada Kaisha. Ternyata isinya adalah potret mereka
berdua selama ini dalam moment-moment yang special bagi William.
"Dan ini" Sambungnya
sambil memberikan sebuah CD.
"Terimakasih. Ini apa?" Gumam
Kaisha sambil mengangkat CD yang William berikan.
"Itu rekaman lagu ciptaanku
yang aku mainkan dengan piano, untukmu." Jawab William sambil tersenyum.
Kaisha merasa sangat bahagia.
"Waw. Makasih ya. Aku bingung
nih mesti ngebalesnya gimana hehe" Gumam Kaisha salah tingkah.
"Ah, gak usah repot-repot Sha. Kamu terima ini juga
udah jadi balesan yang cukup buat aku" Lagi-lagi kata-kata William membuat
Kaisha melayang ke langit ke 7.
"Gimana kalau balesannya sekarang
aku ngelukis kamu, mau?" Usul Kaisha.
"Boleh" Jawab William
excited.
"Tapi, selama aku ngelukis kamu
gak boleh liat lukisan aku dulu. Awas lho kalo ngintip." Gurau Kaisha.
"Hahaha siap!" William
menyetujui permintaan Kaisha.
Kaishapun segera melukis wajah William.
Setelah selesai, ia langsung memberikannya pada William.
"Wah, bagus banget. Tapi tunggu
dulu, kok gini sih?" Gumam William saat melihat lukisan hasil karya
Kaisha.
"Gini kenapa?" Kaisha
langsung memperhatikan lukisannya. "Ada yang salah emang?"
"Di lukisan ini kok aku ganteng
banget ya? Emangnya aku seganteng itu?" William menunjuk lukisan bergambar
wajahnya.
"Dasar deh, bikin panik. Aku
kira beneran ada yang salah." Gumam Kaisha kesal.
"Bener ya aku seganteng ini?
Hahaha"
"Hahaha.. kegantengan ya?
Yaudah bonus, aku tambahin tuh gantengnya." Jawab Kaisha.
**
Kaisha
mendapat oleh Kayra kakaknya yang seorang fashionista dan baru saja pulang dari
A.S untuk kuliah bahwa besok lusa ia akan bertunangan, Kaisha sangat senang
mendengar kabar bahagia itu. Namun Kaisha merasa ada yang aneh, janggal, karena
semuanya terasa terlalu terburu-buru, ia juga tak diberitahu siapa calon
tunangan kakaknya itu. Bahkan ketika Kaisha bertanya siapa namanya, Kayra hanya
menjawab "pokoknya surprise deh"
Hari
pertunangan Kayra pun tiba. Sayangnya Kaisha sedikit terlambat menghadiri acara
itu.
Saat ia melihat calon tunangan
kakaknya ia benar-benar shock, ternyata dia adalah William, laki-laki yang
sangat ia cintai. Seketika itu hatinya hancur & dunianya terasa runtuh. Ia tak kuasa
menahan air matanya dan langsung keluar dari gedung tempat acara itu
berlangsung.
William terkejut saat melihat
Kaisha, ia tak tahu kalau ternyata calon tunangannya itu mengenal Kaisha, perempuan
yang sangat ia cintai. Saat Kayra sedang memasangkan cincin dijarinya ia
langsung menarik tangannya dan pergi mengejar Kaisha, tapi Kayra menahannya.
"Kamu mau kemana? Acaranya kan
belum selesai." Gumam Kaisha.
"Kamu tunggu dulu disini. Aku..
Aku cuma mau keluar sebentar." Jawab William menunjuk ke arah pintu keluar
gedung. Jawaban itu akhirnya membuat Kayra mengurungkan niatnya untuk menyusul
William.
Dibenak
Kaisha berkecamuk berbagai macam pertanyaan. Ia bingung, ia tak mengerti.
"Bagaimana bisa kamu melakukan
ini? Kenapa harus Kayra, kakak aku sendiri?" Kaisha tak habis pikir kenapa
semua ini bisa terjadi. "Kenapa kamu tega ngasih aku harapan-harapan indah
kalau akhirnya kamu sendiri yang menghancurkan semuanya dengan cara seperti
ini. Semua ini terlalu sakit untukku Will" Gumam Kaisha dalam hati.
Kaisha
masih tak percaya dengan semua kejadian ini, ia masih terhanyut dalam
lamunannya di bangku taman tak jauh dari gedung itu. Hatinya lebih dari sekedar
hancur. Luka yang ada benar-benar terasa
perih, membekas dihatinya yang semula berbunga-bunga karena William.
Ketika Kaisha menyadari langkah William
menuju ke arahnya ia langsung menghapus air matanya, ia tak ingin semua orang
tahu kalau selama ini ia mencintai William.
William
menghampiri Kaisha dengan sisa-sisa butiran air mata dimatanya. Ia mencoba
menghapusnya, tapi Kaisha menampiknya.
"Maafin aku Sha. Aku
bener-bener gak bermaksud ngelakuin ini" Gumam William.
"Gak ada yang perlu dimaafin,
gak ada apa-apa kan diantara kita." Kaisha menegaskan hubungan mereka
hanya sekedar teman.
"Ngapain kamu kesini? Lanjutin
aja acaranya, kasian kak Kayra, pasti dia nungguin kamu di dalem." Gumam Kaisha sambil menahan air matanya agar tidak jatuh
semakin deras dihadapan William.
"Jadi, Kayra itu kakak kamu?" William shock.
"Ya, dia kakak aku. Tunggu apa lagi? Cepetan ke dalem. Jangan bikin
kakak aku kecewa gara-gara nungguin kamu." Pinta Kaisha.
"Yang
aku cintai kamu Sha, bukan Kayra" William megungkapkan isi hatinya. "Aku
mau tunangan sama kamu, bukan sama dia."
Kaisha memang mencintai William, dan
Kaisha juga ingin William membalas perasaannya, tapi tidak dengan cara seperti
ini.
"Aku gak bisa. Aku gak cinta
sama kamu." Jawab Kaisha
"Aku cuma gak mau nyakitin hati
kakak aku Will. Kenapa kamu lakuin semua ini sih?" Batin Kaisha kecewa.
Kayra yang lama menunggu di dalam
akhirnya keluar mencari William. Tanpa Kaisha dan William sadari Kayra
mendengar percakapan mereka, ungkapan cinta William kepada Kaisha.
Kayrapun langsung marah besar pada
mereka berdua dan langsung manampar mereka. Saking marahnya Kayra pada Kaisha
ia sampai melontarkan kata-kata ia ingin Kaisha pergi dari rumah. Kaisha pun
langsung pergi sambil bercucuran air mata. William mengejarnya tapi Kaisha
menahannya. Saat diminta untuk melanjutkan acara pertunangannya William malah
pergi meninggalkan Kayra.
Kayra
marah-marah kepada ayahnya bahwa ia ingin William kembali padanya dengan cara
apapun itu, dan ayahnya pun berjanji akan melakukan apapun demi membuat William
kembali padanya.
**
Ditengah
perjalan Kaisha bertemu dengan Auryn yang sedang berjalan keluar dari suatu
pusat perbelanjaan. Kaisha langsung memeluk Auryn dengn isakan tangisannya.
"Sha
lo kenapa? Kok nangis gini? Ada masalah apa?" Gumam Auryn terkejut dan khawatir.
"William
Ryn…" Kaisha tak melanjutkan kata-katanya. Isak tangisnya semakin hebat,
air matanya keluar semakin deras.
"William
kenapa? Yaudah sekarang kita duduk dulu deh. Mobil
gue di parkiran. Kita kesana ya, terus lo ceritain semuanya." Auryn
menyarankan. Kaisha hanya mengangguk.
Sesampainya di mobil.
"Lo minum dulu deh biar agak
enakan ceritanya." Auryn menawarkan minuman pada Kaisha. Kaisha
menerimanya.
Setelah agak tenang, Kaisha
menceritakan semua yang terjadi pada sahabatnya itu.
"Ya ampun William sama kakak lo tega banget. Sabar ya
Sha." Gumam Auryn setelah mendengarkan kronologis kejadiannya.
"Terus sekarang lo mau kemana
Sha? Mau di kostan gue?"
"Hmm.. kayanya gue mendingan ke
rumah Oma deh, biar gue nenangin diri disana."
"Yaudah gue anterin lo kesana
ya. Udah dong jangan nangis lagi. Sahabat gue kan kuat." Gumam Auryn
menyemangati. Kaisha tersenyum mengangguk.
"Makasih ya Ryn."
"Gak apa-apa Sha. Lo kalau ada
apa-apa hubungin gue ya? Inget lho, jangan sedih terus."
"Iya Ryn. Gue mau move on. Gak mau
sedih-sedihan lagi."
"Nah
gitu dong. Yaudah gue
pamit dulu ya."
"Okey, ati-ati ya Ryn. Sekali lagi makasih."
**
Di lembang, rumah Omanya, Kaisha sekarang lebih sering
melamun merenungi kisahnya, hatinya yang hancur karena William. Saat melihat ke
tempat-tempat tertentu, ia kembali mengingat setiap kenangannya bersama
William, terlebih lagi ketika melihat hadiah yang pernah William berikan
padanya.
Semenjak
acara pertunangannya yang gagal William tak pernah bertemu lagi dengan Kaisha,
ia telah mancarinya kemana-mana, tapi hasilnya nihil. Bahkan orangtuanya pun
tak tahu Kaisha dimana. William sangat merindukan Kaisha, selama ini jika ia
rindu ia hanya bisa melihat foto-foto Kaisha.
Kayra
terus memaksanya untuk bertunangan, akhirnya William pun pasrah dan bertunangan
dengan Kayra, walaupun hatinya masih tetap untuk Kaisha.
Suasana
berubah, luka hati Kaisha sudah sedikit lebih baik setelah ia mengenal Reza cowok
Bandung yang humble, humoris, dan selalu menghibur Kaisha. Hari-harinya menjadi
lebih ceria karena Reza. Sampai akhirnya Reza menyatakan cinta padanya, dan ia
menerimanya. Walaupun Reza telah menjadi kekasihnya, tapi hatinya masih tetap
untuk William (cinta pertamanya).
Tiba-tiba
Kayra datang ke rumah omanya bersama William. Kaisha sangat terkejut, terlebih
lagi ketika kakaknya memberitahu bahwa ia & William sudah bertunangan.
Lagi-lagi William mengecewakannya, hatinya hancur untuk kedua kalinya. Tapi
kali ini Kaisha tidak menunjukkan semua kesedihannya, ia membalutnya dengan
senyuman seolah ia telah benar-benar merelakan William untuk Kayra, seolah
hatinya bahagia mendengar hal itu. Padahal jauh dalam hati kecilnya, ia
menangis, ia terluka, ia kecewa.
Diam-diam
Reza menyukai Kayra, dan Kayra pun sebaliknya. Kayra dilema, ia sudah memiliki
William, tapi hati kecilnya memilih Reza.
Kayra
& Reza semakin lama semakin dekat. Suatu hari William melihat mereka sedang
berduaan di taman, kedekatan mereka hampir seperti pasangan kekasih. William
senang melihat keadaan ini, karena dengan ini Kayra tidak akan mengejar-ngejar
dia lagi. Tapi disisi lain ia takut perasaan Kaisha akan terluka lagi karena
semua ini. Ia rela melakukan apapun demi kebahagiaan Kaisha, walaupun bukan dia
yang menjadi alasan kebahagiaan Kaisha itu. Karena bagi William bahagia itu
sederhana, selama Kaisha bahagia, ia juga pasti akan bahagia.
William
kembali mendekati Kaisha dengan harapan Kaisha bisa kembali padanya seperti
dulu. Awalnya Kaisha masih kaku saat berbicara dengannya. Namun akhirnya
kedekatan mereka kembali seperti dulu.
Kaisha
akhirnya melihat kedekatan Kayra dengan Reza. Anehnya ia sama sekali tidak
marah, cemburu, ataupun kecewa karena hal itu. Ia bahkan senang melihatnya,
karena sekarang Reza telah menemukan orang yang benar-benar ia cintai dan yang
mencintainya.
Suatu
hari William mengajak Reza untuk berbicara berdua dengannya. William marah
padanya, kenapa bisa-bisanya ia mendekati kakak dari pacarnya sendiri. William
melakukan ini bukan karena ia cemburu, tapi ia tak mau kalau sampai Kaisha
terluka karena perbuatan Reza itu. Reza hanya bisa meminta maaf pada William.
Disaat
yang sama Kayra juga mengajak Kaisha untuk berbicara 4 mata.
"Gue minta maaf Sha. Gue tau
waktu itu gue kasar banget, gue keterlaluan udah ngusir & nampar lo."
"Gak
apa-apa kak, gue ngerti kok lo cuma emosi dan gak mau pertunangan lo hancur
gara-gara gue." Kaisha memaafkan kakaknya.
"Maafin
gue juga, karena gue sayang sama Reza, cowok lo." Kata Kayra sambil melepaskan
cincin pertunangannya dan menyerahkannya pada Kaisha.
"Gue gak pantes pake cincin itu. Lo yang harusnya pake
itu."
Kaisha shock.
"Engga kak. Dia kan udah milih lo jadi tunangannya. Lo
emang pantes pake cincin ini" Kaisha mengembalikan cincin itu.
"Enggak Sha, lo salah. Sekeras apapun gue berusaha
maksain perasaan gue sama William, cinta dia tetep cuma buat lo, Sha."
Kaisha akhirnya menerima cincin yang Kayra serahkan padanya.
Setelah pertemuan empat mata antara
William – Reza dan Kayra – Kaisha mereka berempat bertemu. Reza dan Kayra
mengakui kalau mereka saling mencintai. Kayra telah memutuskan hubungannya
dengan William dengan menyerahkan cincin pertunangannya pada Kaisha beberapa
waktu yang lalu. William terkejut mendengarnya, tapi ia senang dan
berterimakasih pada Kayra, karena kesempatannya untuk kembali pada Kaisha kini
terbuka lebar. Sayangnya, Kaisha malah mengembalikan cincin itu pada William
karena ia merasa tidak pantas untuk menyimpannya atau bahkan untuk memakainya.
Setelah mengembalikan cincin itu
Kaisha langsung berbalik hendak pergi meninggalkan William, tapi ia menahannya.
"Sampai sekarang, sampai detik
ini, aku masih sangat mencintaimu Sha." William memasangkan cincin pada
jari Kaisha. Kali ini Kaisha tak menolaknya. Kaisha langsung memeluk William,
ia menangis. Tapi kali ini bukan karena kesedihan, melainkan tangisan
kebahagiaan.
"Aku juga cinta sama kamu Will."
Bisik Kaisha saat ia masih dipelukkan William.
**
Kaisha & Kayra kembali ke
Jakarta, pulang ke rumah orang tuanya dengan mengajak pasangan mereka
masing-masing. William dengan Kaisha dan Kayra dengan Reza.
Orangtua mereka sangat bahagia karena
anak-anaknya sudah menemukan cinta sejatinya masing-masing. Ayahnya meminta
maaf atas sikap kerasnya. Ayahnya menyesal telah memperlakukan Kaisha dengan
tidak adil selama ini. Mulai sekarang ia tidak akan melarangnya lagi untuk
melukis.


Comments
Post a Comment