Luka
“Kembalikan!” Pinta Billy.
“Pasti ada yang kamu sembunyikan.” Gerutuku, masih menggenggam erat handphone-nya.
“Tidak. Sudahlah kembalikan, sayang!” Ia merajuk.
Semakin ia melarangku, semakin aku penasaran. Perlahan, aku membuka pesannya.
Billy menggenggam tanganku. “Maafkan aku. Akan kujelaskan semua ini.”
Aku hanya diam. Aku terlalu kecewa padanya. Seorang teman hidup yang kupikir takkan berkhianat nyatanya seperti ini. Sakitku terlalu dalam, terlebih karena perjuanganku mempertahankannya selama berhubungan jarak jauh ini.
“Dia hanya temanku, tak lebih. Maafkan aku, Vi.” Billy memohon. Aku masih terdiam. Membuang pandanganku. Menahan air mataku agar tak jatuh semakin deras.
“Maaf. Kita perbaiki semuanya, dari awal lagi.”
“Untuk apa? Kepercayaanku sudah kauhancurkan.”
“Maaf. Apa yang harus kulakukan? Aku masih sangat menyayangimu.”
“Tanyakan pada dirimu! Kalau kamu sayang, kamu takkan melakukan apa yang kamu lakukan sekarang.”
Hening. Dia menatapku. Tanpa kuduga, ia menangis. Sesal tergambar jelas diwajahnya.
“Aku pulang. Tenangkan pikiranmu. Semua akan baik-baik saja.”
“Semudah itu? Sudahlah, pergi saja, jangan pernah kembali lagi!”
Tanpa merasa berdosa, Billy menghilang dari pandanganku. Air mataku menghantarkan pengkhianat itu.
“Pasti ada yang kamu sembunyikan.” Gerutuku, masih menggenggam erat handphone-nya.
“Tidak. Sudahlah kembalikan, sayang!” Ia merajuk.
Semakin ia melarangku, semakin aku penasaran. Perlahan, aku membuka pesannya.
BillySudut mataku semakin penuh air, bak banjir bandang. Seketika hatiku berubah menjadi kepingan berdarah. Sakit.
Aku menyayangimu. Aku takut kehilanganmu.
Citra
Bagaimana dengan kekasihmu?
Billy
Vina takkan berpaling dariku. Percayalah, aku lebih menginginkan bersamamu.
Billy menggenggam tanganku. “Maafkan aku. Akan kujelaskan semua ini.”
Aku hanya diam. Aku terlalu kecewa padanya. Seorang teman hidup yang kupikir takkan berkhianat nyatanya seperti ini. Sakitku terlalu dalam, terlebih karena perjuanganku mempertahankannya selama berhubungan jarak jauh ini.
“Dia hanya temanku, tak lebih. Maafkan aku, Vi.” Billy memohon. Aku masih terdiam. Membuang pandanganku. Menahan air mataku agar tak jatuh semakin deras.
“Maaf. Kita perbaiki semuanya, dari awal lagi.”
“Untuk apa? Kepercayaanku sudah kauhancurkan.”
“Maaf. Apa yang harus kulakukan? Aku masih sangat menyayangimu.”
“Tanyakan pada dirimu! Kalau kamu sayang, kamu takkan melakukan apa yang kamu lakukan sekarang.”
Hening. Dia menatapku. Tanpa kuduga, ia menangis. Sesal tergambar jelas diwajahnya.
“Aku pulang. Tenangkan pikiranmu. Semua akan baik-baik saja.”
“Semudah itu? Sudahlah, pergi saja, jangan pernah kembali lagi!”
Tanpa merasa berdosa, Billy menghilang dari pandanganku. Air mataku menghantarkan pengkhianat itu.


Comments
Post a Comment