Mak Comblang
Aku mencari Dhika. Napasku
terengah ketika menemukannya disudut taman. Ia masih tetap mempesona.
"Maaf menunggu
lama." Ucapku, senyum semanis mungkin sambil merapikan penampilanku.
Terang saja aku tak ingin terlihat kacau dihadapan pria tinggi berlesung pipi
ini; pria yang kusukai.
"Tak apa, Sha.
Kamu cantik sekali hari ini." Kata-katanya membuatku melayang.
"Iya, lebih cantik dari biasanya." Sekali lagi aku dibuatnya melayang.
"Iya, lebih cantik dari biasanya." Sekali lagi aku dibuatnya melayang.
Tak lama, aku kembali ke alam sadarku setelah ia terbangkan ke langit ke-7. Ia memandangku penuh arti. "Jadi, apa yang ingin kamu katakan?" Tanyaku, to the point.
Ia menggenggam
tanganku. "Sebenarnya aku ingin kamu jadi..." Kata-katanya terhenti. "Jadi?" Penasaranku
memuncak.
"Aku menginginkan pendamping hidup. Kini aku telah menemukannya." Aku melayang (lagi). Bermimpikah aku? Dia memintaku menjadi pendamping hidupnya?
"Aku mengerti. Aku mau." Jawabku yakin. "Benarkah?" Ia tak yakin, namun rona bahagianya jelas tersirat. “Ya." Aku meyakinkan. Kali ini senyumnya merekah. Dia selalu terlihat lebih tampan jika tersenyum seperti itu.
Dia menyodorkan handphone-nya. “Ini orangnya!” Deg. Aku terhempas. Ternyata orangnya bukan aku.
“Dia?” Keterkejutanku tak bisa disembunyikan. "Ya. Aku ingin kamu jadi mak comblang-nya."
Aku melihatnya lagi.
Display name yang terpampang ‘Rian Admika’, display picture-nya-pun lelaki
tampan. Oh Tuhan, bawa wanita yang sedang patah hati ini pergi dari sini
sekarang juga.


Comments
Post a Comment