Surat untuk Mantan


Untuk kamu, 
yang pernah menjadi segala dalam kepala

Majalengka, 1 April 2014


Hai, kamu. Lelaki yang sempat menjadi terindah dalam hidupku. Bagaimana keadaanmu sekarang? Baik-baik sajakah? Semoga begitu.

Bagaimana dengan kebiasaanmu, masih sering tidur larut dengan kipas angin yang menemanimu sepanjang malam? Masih sering makan mie instan karena menurutmu hanya itu yang bisa kau masak? Ah sudah kubilang, itu tak cukup baik untuk kau jadikan kebiasaan, tapi sepertinya kamu masih tetap keras kepala melakukannya.
Oh ya, apakah kamu masih sering mendengarkan lagu-lagu rekomendasiku sebelum kamu terlelap? Lalu bagaimana rutinitasmu membagi perhatian pada hobi futsalmu itu? Masih sering juga membagi kata sayangmu?
Ups! Pertanyaan yang terakhir itu coret saja, jika kamu keberatan. :) 

Surat ini aku tulis bukan untuk  mengusik kehidupanmu yang sudah tanpa aku. -Aku, yang sempat kau anggap pelangi hidupmu, sebelum kamu menemukan malaikatmu.-
Bukan juga untuk menguak masa-masa kita yang dulu. Melainkan hanya sebagai penyalur rindu. Rangkaian kata dari hati dengan seberkas kenangan. 

Ingatkah kamu? Hari ini, 1 April 2014. Seharusnya tepat satu tahun kita bersama. Ya, harusnya. Sebelum kamu pergi bersama seorang yang kamu anggap malaikatmu itu.

Saat kamu bisa bernapas lega dan menyunggingkan senyum setelah kamu pergi, mungkin itulah awal kebahagiaanmu yang utuh. Bukan untukku. Tidak bersamaku.
Bagaimana sekarang? Setelah punggungmu tak lagi tertangkap mataku, apakah kelegaan itu masih sama? Apa senyuman itu semakin merekah?
Ah, aku hanya bisa berharap segala yang terbaik untukmu. Semoga, dan semoga.

Aku bersyukur dengan hadirnya kamu.
Kamu, halaman yang dulu pernah kubaca. Halaman yang banyak memberi arti hidup.
Halaman ysng kini kembali kubuka. Bukan untuk tenggelam di dalamnya, namun untuk menengok lautan kisah yang pernah kuarungi.

Kamu, lelaki paling menyebalkan yang anehnya masih saja aku rindukan. Maafkan aku, segala tentang kamu masih tersimpan rapi, meski sudah tidak kupeluk seerat dulu. Rasa ini, sungguh masih tertuju hanya padamu.

Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku ketika aku menulis surat ini. Karena hatiku saat ini sudah kuat. Setidaknya cukup kuat untuk tidak lagi merasakan luka itu.

Kamu juga tak usah meragukan proses move on-ku, karena nyatanya aku bisa melanjutkan hidup tanpa meratapi kita yang dulu. Perasaanku masih untukmu, tapi tidak dengan harapanku. Ia sudah lelah menggantungkan diri padamu.

Terima kasih Tuhan, untuk saling jatuh cinta yang pernah Kau selipkan diantara kita. Sepasang manusia yang pernah saling memberi arti, yang sempat saling mengisi, meski akhirnya harus kembali mencari. Sekarang hanya ada pernah dan sempat dalam kita, karena kita tak cukup kuat untuk saling menggenggam.

Terima kasih, kamu yang telah menorehkan pena kebahagiaan di hidupku, meski kata selamanya tidak dituliskan untuk kisah kita. Terima kasih telah meminjamkan rindu ini untuk menemaniku.

Satu pesanku, jangan biarkan ada wanita lain yang harus menelan bulat-bulat pil pahit bernama luka darimu, setelah aku.

Tertanda,
-wanita yang sempat mencintaimu-


Tulisan ini diikutsertakan untuk lomba #suratuntukruth novel Bernard Batubara.



Comments

Popular Posts