Ketika Kamu Pergi
Layaknya dedaunan di
musim gugur. Satu persatu harapanku terbang diterpa angin pengkhianatan.
Kamu, dan dia --yang kau anggap malaikatmu-- pergi. Satu-satunya yang
bersedia menemaniku malam itu hanya senyummu, senyum terakhirmu padaku.
Sepertinya kamu salah menduga, sayang. Bagaimana bisa sosok malaikat yang seharusnya pemberi kebahagiaan, justru jadi perebut kebahagiaan?
Sebahagia apapun kamu mendapatkannya sekarang, pasti kau tinggalkan juga. Nanti, setelah sayapnya kau patahkan. Benar, kan? Aku tahu. Aku mengerti. Karena dulu aku yang berada di posisi malaikatmu itu.
Tapi tak apa. Daun yang gugur akan selalu tumbuh lagi. Tak peduli betapa kencangnya angin menghempaskan hingga terpencar. Harapku-pun begitu. Memang tidak sekarang. Tapi setidaknya aku sedang mencoba memupuknya, hingga bersemi lagi.
Kamu tahu? Ketika aku berkata "semoga kamu bahagia bersamanya", itu adalah luka terperih yang kubuat sendiri. Ya, memang hanya itu yang bisa kuberikan untuk mengantar kepergianmu, selain air mata tentunya.
Bodoh? Mungkin. Tapi setiap rasa sepertinya memang sudah enggan berteman dengan logika.
Kamu, segala tentang kamu selalu berjalan berdampingan dengan kesia-siaan. Dan aku tahu, logikaku benar-benar mengetahui itu. Tapi hati kecilku ini masih tetap saja... menantimu. Tanpa aku sadari. Setelah setahun ini kita dipisahkan oleh pengkhianatan, nyatanya yang bertahan hanya rasa sayangku, bukan rasa sakit atau kebencian yang pada awalnya datang lebih hebat. Mengapa? Aku sendiri tak mengerti.
Bagaimana bisa aku masih menyayangi orang yang sudah membohongi dan mengkhianatiku? Apa yang lebih menyakitkan dari dibohongi, dikhianati, dan tidak dihargai dalam waktu yang sama, apa?
Aku pernah mencoba membuka hati untuk laki-laki lain. Tentunya aku ingin melanjutkan hidup dengan rasa untuk sosok baru. Dan kamu tahu apa yang terjadi? Aku bahkan hanya melukainya, melukai hati sosok baru yang tak bersalah itu. Aku tak bermaksud, tapi entahlah... Semua berjalan begitu saja. Aku terlalu tenggelam akan masa lalu, yg membuatku tak memberi celah pada yg baru. Karena masih terlalu nyaman bersama sisa-sisa kita yang dulu.
Semua berubah, tapi tidak dengan perasaanku.
Dadaku masih berdegup kencang ketika melihatmu, terlebih ketika kau tersenyum. Ya, meski bukan untukku. Atau luapan bahagia ketika sepucuk pesanmu datang untukku --kali ini memang benar-benar untukku. Dan hal ini hanya terjadi ketika kamu sedih, terluka, bahkan kecewa dengan malaikatmu itu. Jadi maafkan aku jika aku berharap kau terus terluka karena dia. Karena hanya saat itu kamu anggap aku ada.
"Jangan manja. Sembuhkan sendiri lukamu. Karena orang-orang di luar sana pintar berpura-pura untuk peduli terhadapmu." Perintah itu selalu terngiang di hatiku. Otak selalu lebih mudah memerintahkan hati seperti itu, mengalahkan diriku sendiri bahkan.
Sepertinya kamu salah menduga, sayang. Bagaimana bisa sosok malaikat yang seharusnya pemberi kebahagiaan, justru jadi perebut kebahagiaan?
Sebahagia apapun kamu mendapatkannya sekarang, pasti kau tinggalkan juga. Nanti, setelah sayapnya kau patahkan. Benar, kan? Aku tahu. Aku mengerti. Karena dulu aku yang berada di posisi malaikatmu itu.
Tapi tak apa. Daun yang gugur akan selalu tumbuh lagi. Tak peduli betapa kencangnya angin menghempaskan hingga terpencar. Harapku-pun begitu. Memang tidak sekarang. Tapi setidaknya aku sedang mencoba memupuknya, hingga bersemi lagi.
Kamu tahu? Ketika aku berkata "semoga kamu bahagia bersamanya", itu adalah luka terperih yang kubuat sendiri. Ya, memang hanya itu yang bisa kuberikan untuk mengantar kepergianmu, selain air mata tentunya.
Bodoh? Mungkin. Tapi setiap rasa sepertinya memang sudah enggan berteman dengan logika.
Kamu, segala tentang kamu selalu berjalan berdampingan dengan kesia-siaan. Dan aku tahu, logikaku benar-benar mengetahui itu. Tapi hati kecilku ini masih tetap saja... menantimu. Tanpa aku sadari. Setelah setahun ini kita dipisahkan oleh pengkhianatan, nyatanya yang bertahan hanya rasa sayangku, bukan rasa sakit atau kebencian yang pada awalnya datang lebih hebat. Mengapa? Aku sendiri tak mengerti.
Bagaimana bisa aku masih menyayangi orang yang sudah membohongi dan mengkhianatiku? Apa yang lebih menyakitkan dari dibohongi, dikhianati, dan tidak dihargai dalam waktu yang sama, apa?
Aku pernah mencoba membuka hati untuk laki-laki lain. Tentunya aku ingin melanjutkan hidup dengan rasa untuk sosok baru. Dan kamu tahu apa yang terjadi? Aku bahkan hanya melukainya, melukai hati sosok baru yang tak bersalah itu. Aku tak bermaksud, tapi entahlah... Semua berjalan begitu saja. Aku terlalu tenggelam akan masa lalu, yg membuatku tak memberi celah pada yg baru. Karena masih terlalu nyaman bersama sisa-sisa kita yang dulu.
Semua berubah, tapi tidak dengan perasaanku.
Dadaku masih berdegup kencang ketika melihatmu, terlebih ketika kau tersenyum. Ya, meski bukan untukku. Atau luapan bahagia ketika sepucuk pesanmu datang untukku --kali ini memang benar-benar untukku. Dan hal ini hanya terjadi ketika kamu sedih, terluka, bahkan kecewa dengan malaikatmu itu. Jadi maafkan aku jika aku berharap kau terus terluka karena dia. Karena hanya saat itu kamu anggap aku ada.
**
"Jangan manja. Sembuhkan sendiri lukamu. Karena orang-orang di luar sana pintar berpura-pura untuk peduli terhadapmu." Perintah itu selalu terngiang di hatiku. Otak selalu lebih mudah memerintahkan hati seperti itu, mengalahkan diriku sendiri bahkan.


kerennn tulisannya~
ReplyDeleteMakasih udah baca :)
ReplyDelete