Hot Chocolate
Manis dan hangat. Seperti hot chocolate di kala hujan.
Kalau ada yang bertanya tentang bahagiaku, akan kujawab dengan kamu, hot chocolate-ku.
Pagi ini pagi yang lebih dingin dari
biasanya, jadi aku memutuskan untuk membeli hot chocolate kesukaanku di café
dekat kampus. Semua masih berjalan seperti biasanya, sampai pada saat kamu
datang. Berdiri di sampingku, menunggu antrian memesan.
Semesta mempertemukan kita lagi, di
bawah langit kota kembang, di antara rintik hujan yang turun. Pernahkah kamu
menyangka kita akan dipetemukan lagi? Aku tidak. Tapi aku bahagia bisa
melihatmu lagi setelah bertahun-tahun terlewati tanpa kabar apapun darimu. Aku
bahagia, karena kamu masih tetap kamu yang aku kenal dulu, kamu yang selalu
manis dan hangat padaku.
“Hey. Anin kan?” Sapamu disertai
senyuman paling manis di pagi itu. Ketika semesta memberiku waktu untuk melihat
senyummu lagi, jantungku berdebar, melompat tak karuan.
“Ya.” Aku balas tersenyum. Namun
sepertinya ekspresi heranku dapat dengan mudah ia baca, sehingga dengan tawa
khasnya ia bertanya, “Masih inget kan? Aku Davin.” Bagaimana bisa aku tak
mengingat kamu, cinta pertamaku?
“Masih dong, yang manggil aku Anin
kan cuma kamu.” Aku meyakinkan. “Ya walaupun tadi agak ragu, kamu beda banget
sih sekarang.” Sejak kecil orang-orang disekitarku biasa memanggilku Nindy.
Namaku sebenarnya Anindya, dan hanya Davin yang memanggilku Anin, hingga saat
ini.
“Iyalah, kalau aku masih sama kayak
6 tahun lalu berarti aku abnormal dong.” Guraumu, masih disertai tawa yang
khas. 6 tahun lalu, sudah lama sekali ya.
“Gak kerasa, udah lama banget kita
gak ketemu. Kamu masih aja jail kayak dulu.” Jawabku meledeknya.
“Pesan apa mbak?” Si barista
tiba-tiba masuk di antara percakapan 2 sahabat lama itu. “Ho…” Belum selesai
aku membicarakan pesananku, Davin tiba-tiba mengambil alih posisiku sebagai
penjawab, “Hot chocolate, 2 mbak.” Si barista mengangguk lalu berbalik
menyiapkan pesanan. Dan aku masih dengan wajah heran menatapnya. “Kesukaan kamu
masih belum berubah bukan? Apalagi di cuaca kayak gini.” Davin menampilkan
deretan giginya yang rapi, pembelaan karena telah menyerobot dengan
ke-sok-tau-an-nya. Ternyata dia masih
ingat kesukaanku. Aku tersenyum kecil dan merasakan wajahku menghangat. Kalau
aku sekarang sedang di depan cermin pasti aku sudah melihat pipiku memerah.
“Kalau
soal mengingat, kamu memang jagonya.” Jawabku membenarkan ke-sok-tau-an-nya.
Dia membalas dengan senyum, lagi-lagi senyuman super manisnya.
Tak
lama kemudian si barista datang membawa pesanan kami. Setelah menerima hot
chocolate dengan kemasan sekali pakai dan membayar pesanan masing-masing, aku
berencana melangkahkan kaki ke luar cafe. Namun, Davin mencegahku. “Di luar
masih ujan nih, deras lagi. Kamu gak mau nemenin aku duduk-duduk dulu gitu di
sini?”
“Ehmm..
tapi aku harus ke kampus nih, Vin." Aku sebenarnya tak berusaha menolak,
aku ingin sekali, tapi situasinya sedang tidak tepat. “Sebentar aja bisa kali.
Yah yah?” Dia masih bersikeras membujuk, dan aku paling tak bisa men-tidak-kan
permintaannya kalau dia sudah seperti itu. Akhirnya, aku dan dia terdampar di
kursi di samping jendela besar. Pagi itu cafe agak sedikit penuh. Mungkin
karena orang-orang sedang membutuhkan kehangatan di saat cuaca seperti ini.
“Jadi, kamu kuliah di sini
sekarang?” Gumam Davin, membuka obrolan. “Iya, dan sebenarnya aku ada rapat BEM
jam 9 nanti.” Aku takut-takut mengucapkan itu. Tapi kekhawatiranku tentang
rapat belum juga hilang. Davin hanya tertawa, “Kamu tuh ya, santai aja deh.
Rapat kan bisa nanti lagi. Kalo nemenin aku gini kan kapan lagi coba?”
“Besok-besok juga bisa kali nemenin
kamu mah.” Aku terkekeh.
“Tapi kalau besok-besok aku udah gak
di Bandung gimana? Aku kan tinggal di Surabaya, Nin.” Dengan santainya Davin
menimpali. Aku terkejut mendengarnya. Dan ada perih yang menyelinap masuk di
antara kehangatan yang dia ciptakan. Berarti
pertemuan seperti ini tak akan terjadi lagi.
“Loh terus sekarang kamu di sini?”
Tanyaku heran. “Aku lagi free jadwal kuliah, makanya aku liburan ke sini. Dan
kebetulan banget pagi ini bisa ketemu kamu.” Lagi-lagi senyumnya mengembang.
Ah, menenangkan. “Berapa lama? Aku seneng kita bisa ketemu lagi.”
“Cuma satu minggu. Makanya kamu temenin aku di sini.”
Menyenangkan, setelah sekian lama,
akhirnya kami dipertemukan lagi. Bertukar cerita dengannya tak pernah membuatku
bosan. Nyaman sekali rasanya bisa seperti ini.
Sekitar pukul 9 lewat, hpku
berbunyi, notifikasi SMS. Ternyata kabar bahwa rapatnya batal
dilaksanakan hari ini. Tanpa aba-aba, bibirku langsung melengkungkan senyum.
Melihat itu Davin tak tinggal diam. “Ada apa?” Aku
menjawab dengan senyumku lagi. “Rapatnya di-cancel.” Kali ini kita berdua
sama-sama tersenyum memamerkan barisan gigi. “Tuhkan aku bilang juga apa.
Untung kamu di sini. Coba kalau di kampus, bisa mati kebosanan karena gak ada
aku.” Aku menertawakan ucapannya barusan. “Percaya dirinya tinggi sekali, Pak.”
Ah, semesta, apapun rencanamu, aku
benar-benar berterima kasih untuk pagi ini. Hot chocolate ditambah pertemuan
dengan Davin, dan menghasilkan duduk berdua dengannya di meja ini benar-benar
membuat lengkungan di bibirku tak mau hilang.
***
“Kamu
tau? Kamu itu seperti hot chocolate di kala hujan, manis dan menghangatkanku.“
Ujar Davin. Dan seketika itu juga jantungku berdegup kencang. Aku masih diam.
Tapi hatiku bahagia.
“ Selain penyuka hot chocolate ini,
aku juga penyuka perasaan hangat dan manis darimu.” Ungkapku pada Davin,
akhirnya.
Tuhan boleh aku meminta sesuatu? Pertahankan perasaan
ini, perasaan hangat dan mani ini, kebahagiaan ini. Pintaku dalam
hati.
Dia menggenggam tanganku erat,
hangat. “Kalau begitu, biarkan aku menghangatkanmu dan membuatmu tersenyum
manis terus, biarkan aku jadi hot
chocolate-mu. Selamanya.” Aku mengangguk. “Selamanya.” Senyum tanpa beban
mengembang di bibir kami berdua. Perasaan lega dan senang menghampiri hatiku
lagi, hangat dan manis darimu berdiam diri di dalamnya. Karenamu, hot chocolate-ku.
Sumber Gambar: tokohijau77.blogspot.com
Sumber Gambar: tokohijau77.blogspot.com



Comments
Post a Comment