Meet n Greet with Bernard Batubara (@benzbara_)



Ini sebenernya latepost banget. Tapi gak apa-apa deh ya.
Aku mau cerita tentang MnG sama kak Bara (Bernard Bartubara) di Gramedia Pemuda, Semarang, tanggal 25 Januari 2015. Dia salah satu penulis favoritku. Btw, tanggal lahir kita juga sama, team 9 Juli :D *gak ada yang mau tau juga sih yak*

Dulu pernah sampai ikutan kuis Surat untuk Mantan biar bisa ketemu dia. Eh, tanpa disangka, setahun kemudian aku ketemu tanpa harus ikutan kuis dulu. Yihiiii.

Awalnya tau acara ini dari twitter, dari lini masanya kak Bara dan Gagasmedia. Iseng ngajak temen, dan ternyata dia mau. Jadilah aku dan Yayas duduk manis bertemu kak Bara :D 


Di acara ini kak Bara promo buku barunya, kumcer "Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri". Selain itu dia juga sharing tentang menulis, dari mulai penokohan, konflik, sampai inspirasi.

Awalnya kak Bara cerita tentang buku terbarunya. Ada 15 cerpen dan buku ini lebih 'berat' dari buku-buku yang sebelumnya, karena mengangkat tema sosial, sedikit ke politik, juga tentang anak dan pelecehan yang terjadi pada perempuan. Tapi tetap ada cinta di antara tema tersebut.

Yang paling ngena buat aku pribadi sih tentang inspirasi. Kebanyakan dari kita kalau mau nulis dan stuck pasti alasan 'gak ada inspirasi, mau cari inspirasi, dan bla bla bla.' Tapi kalau kata kak Bara, "inspirasi itu gak perlu dicari, inspirasi itu akan datang sendiri, kita hanya perlu lebih peka pada sekitar."
Kata-kata itu benar-benar membuka mind set aku.
"Setelah lebih peka dan inspirasi datang, catatlah. Suatu saat nanti aku harus bisa menjadikan inspirasi ini sebagai tulisan, entah itu cerpen, novel, atau puisi, entah itu besok atau tahun depan. Aku akan merasa sangat berhutang bila menyia-nyiakan inspirasi itu begitu saja." Lanjutnya.

Selain itu, dibalik produktifnya kak Bara, ada ambisi dan mimpi 'menulis 40 buku sampai usianya yang ke 40'. Aku salut.

Kak Bara juga cerita kalau selama 2 bulan hidupnya pernah stuck hanya dengan laptop, buku, film, kopi, dari kosan, ke cafe, ke bioskop, balik lagi ke kosan terus menerus. Tapi setelah itu dia sadar, kalau dia masih tetap manusia harus memanusiakan dirinya dengan bersosialisasi, nongkrong, haha-hihi gak jelas bareng teman-teman bisa membuatnya tetap 'waras'.

Saking seringnya berhubungan dengan cerita dan fiksi, kak Bara sering menganggap bahwa orang-orang di sekitarnya itu ada tokoh-tokoh dari cerita yang ia tulis. Bukan hanya itu, ia juga menganggap bahwa dia sendiri ada di cerita yang ia baca, ia memikirkan bagaimana adegan selanjutnya dalam hidupnya, ia akan bertemu dengan tokoh yang seperti apalagi.

Dari penokohan, kak Bara bilang kalau kita jangan tanggung-tanggung dalam menyiksa tokoh kita. Semakin banyak ujian yang kita tulis buat tokoh itu, harus semakin hebat juga jalan keluarnya. "Sekejam-kejamnya fiksi gak akan lebih kejam dari kenyataan. Fiksi masih bisa dihapus, diperbaiki, sedangkan kenyataan tidak."

Kak Bara ramah banget. Di sesi foto bareng, dia gak sungkan diajak foto alay, megangin tongsis pembaca :D

Aku rasa cukup, maafkan ke-pabeulit-an-ku dalam bercerita :D

Dan ini fotoku sama kak Baraaa \^o^/ Nice to meet you, Kak!
Makasih buat Yayas yang udah bikin foto ini jadi ada hihi.






Ps: Aku suka cerpennya yang Seorang Perempuan di Loftus Road, Hujan Sudah Berhenti, dan yang paling menyesakkan ketika membacanya: Seribu Matahari untuk Aryani.

Comments

Popular Posts