Sesak dalam Senyap

Ada sesak ketika sikapmu perlahan berubah.
Ada tetesan air yang menyembul keluar dari kedua ujung mataku ketika semuanya berakhir sama, seperti yang kemarin.

Yang berakhir tanpa diawali ini lebih menyesakkan, karena lebih dari sekadar ketidakpastian.

Maaf. Dulu, aku terlalu cepat menyimpulkan.
Mungkin jika aku tak begitu, sakit ini takkan pernah hadir dan menetap.

Perlahan, kamu pun membuatku ragu untuk mematahkan pernyataan "semuanya sama saja" yang tertanam di hatiku.

Kamu tahu? Yang membuat sakit ini semakin menjadi ialah yang kamu jadikan lelucon itu hatiku. Yang kamu anggap hanya sekadar hiburan itu aku. Aku yang terseok-seok bertahan. Menahan segala rasa dalam senyap.

Comments

Popular Posts