Hujan dan Rindu
Hujan turun semakin pekat.
Namun, ia tetap tak meluruhkan kamu dari ingatanku.
Ia justru menghantam dengan kamu yang lebih jelas.
Setiap detailmu menyerbu tanpa ampun.
Namun, ia tetap tak meluruhkan kamu dari ingatanku.
Ia justru menghantam dengan kamu yang lebih jelas.
Setiap detailmu menyerbu tanpa ampun.
Entah sudah berapa lama aku di sini, duduk menatap jendela kedai sembari sesekali menikmati pahitnya kopi ini. Seingatku, kopi dihadapanku ini tadi masih begitu panas dan menghangatkanku. Saat kuteguk lagi, nyatanya ia sudah mendingin, seperti kamu.
Kuganti coklat panas kesayanganku, karena kini manisnya hanyak memuakkanku. Aku merasa pahitnya kopi lebih bisa menemaniku. Agar aku sadar pahit yang bergumul di hatiku ini tak sendirian.
Saat hujan membawa tamu bernama kenangan, tak ada yang bisa kulakukan selain tunduk pada rindu. Aku selalu lemah ketika kenangan sudah bertemu rindu.
Berkali-kali kudatangi kedai ini hanya untuk sekedar membunuh rindu, berharap kamu hadir dan ikut membunuhnya juga.


Comments
Post a Comment