Semesta dan Kamu 2

Cerita sebelumnya Semesta dan Kamu


Terima kasih semesta, aku baru menyadari bahwa keisenganmu silam adalah jalanku menuju kebahagiaan.

Sejak moment 'seharian di toko buku' itu, meskipun jarak beda kota memisahkan kita, namun Arka rutin menemuiku di Bandung. Entah untuk berbagai kepentingan ataupun hanya sekadar ingin menghabiskan waktu bersama dan berbagi cerita. Menurutnya, cerita itu harus dibagi lewat temu dan tatap mata, bukan via chatting seperti kebanyakan orang.

Seperti saat ini, di sebuah kafe, ditemani hujan, Arka sedang asyik menceritakan tentang kliennya yang labil dan jutek. Betapa kesalnya ia, tetapi setiap bercerita matanya selalu terlihat meneduhkan, dan itu hal yang aku suka dari ritual kebiasaan berbagi cerita dengannya ini -selain mendengarkan dia tentunya-.

"Na, kamu kenapa? Aku cerita hal nyebelin kok kamu senyum-senyum terus dari tadi?" Tanyanya menyadarkan aku. Mungkin efek matanya yang teduh membuat bibirku otomatis tersenyum sejak tadi.
Karena tak kunjung mendapat jawaban Arka meluncurkan pertanyaan lagi, "atau jangan-jangan kamu seneng ya denger aku bisa kesel juga? padahal sama juteknya kamu aja aku gak pernah kesel loh." Disertai tawanya yang meluap.

"Habis kamu segitu keselnya sih sama klien kamu, aku kan jadi bayangin gimana ekspresi Arka si cowok yang tingkat percaya diri dan humble-nya overdosis kalau lagi kesel dijutekin." Kita tertawa bersamaan diujung kalimat yang kuucapkan, mata sipitnya Arka semakin menghilang jika tertawa seperti ini.

Omong-omong, kadar percaya diri dan geernya Arka masih tetap sama, begitu juga kadar menyebalkannya. Semakin aku mengenalnya, aku semakin bisa terbuka, padahal Arka masuk dalam kategori 'orang yang baru aku kenal'. Dan entah sejak kapan kita ber-aku-kamu-an seperti sekarang, yang jelas itu menunjukkan kalau perlahan batas 'stranger' diantara kita sudah semakin runtuh.

"Ka, kamu tau nggak apa yang paling aku kangenin waktu kamu di Jakarta?" Tanyaku memancing kegeerannya. "Ya ketemu aku kayak gini lah, iya kan?"

"Tuh kan, kadar geernya kebanyakan deh. Bukan itu tau. Tapi mata kamu yang makin ilang kalau kamu ketawa lepas kayak tadi." Dia tertawa lagi, dan rasanya aku nyaman sekali melihatnya.

Hujan tak kunjung mereda. Ritual cerita antara aku dan Arka berepisode lebih panjang dari biasanya, sampai-sampai hot chocolate dan latte yang kita pesan harus bertambah secangkir lagi. Meskipun minuman kita sudah habis, namun kita tak pernah kekurangan hal untuk dibagi dan dinikmati bersama, membuatku semakin betah berlama-lama dengan si Tuan Geer ini.

** 

"Jadi lo sama Arka sekarang gimana, Na?" Tanya Livi sesampainya aku di kostnya, rasa penasaran tak kunjung menghilang juga, bahkan semakin bertambah seiring dengan intensitas pertemuanku dengan Arka.

Entah jawaban apa yang harus kuberikan, hingga "we're fine, as always, Liv" keluar begitu saja dari mulutku.

Namun, jawabanku tadi ternyata tak cukup memuaskan dahaga ingin tahunya, "bukan itu maksud gue, Na. Arka masih belum nembak lo juga?"

Aku hanya menggeleng perlahan, lalu tersenyum samar, "yang penting kan quality time-nya, Liv, bukan statusnya."

"Kalau gue sih ogah, Na, udah deket berbulan-bulan tapi di-friendzone-in gitu." Kata friendzone terasa menembus jantungku, ada sedikit sesak yang tak terduga. Karena tak mendapat tanggapan, dia melanjutkan, "Lo pancing dia kek buat bilang perasaanya gimana. Atau mendingan ntar kalau lo ketemu dia lagi gue ikut ya, biar gue yang kodein ke Arka. Yah yah." Dia merajuk seperti anak kecil yang meminta permen pada ibunya.

Sepertinya aku selalu kehabisan kata-kata jika berdebat dengannya, terlebih jika otak dan hatiku tak sejalan seperti saat ini. "Tugas kita deadline besok pagi loh, dan lo masih pengen juga bahas gue di-friendzone-in Arka sekarang?"

Akhirnya malam berlalu tanpa terdengar lagi nama Arka diantara percakapan kita.

** 

Comments

Post a Comment

Popular Posts